Iqbal Musyaffa
17 November 2017•Update: 17 November 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) meramalkan tahun depan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap akan mengalami surplus di kisaran USD5-7 miliar.
Menurut Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, Jumat, pada triwulan III tahun ini NPI berada di angka USD 5,4 miliar.
Surplus NPI ini tak lepas dari perkiraan pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Tahun depan, rasio CAD terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di kisaran 2,3-2,5 persen dari PDB.
Defisit transaksi berjalan pada triwulan III tahun ini tercatat sebesar USD4,3 miliar (1,65 persen PDB). Angka ini lebih baik dari defisit pada triwulan sebelumnya dengan besaran USD4,8 miliar (1,91 persen PDB). Bila dibandingkan dengan CAD saat ini, maka terjadi pelebaran CAD pada tahun depan.
Melebarnya CAD ini, kata dia, salah satunya disebabkan oleh kenaikan impor.
“Suatu hal yang normal saja kalau ekonomi membaik, maka impornya akan naik,” kata Mirza.
Pada tahun depan, impor diperkirakan akan terakselerasi dengan masih tingginya harga komoditas dan pertumbuhan ekonomi dunia yang direvisi ke atas. Namun, menurut Mirza, angka ekspor tahun depan tetap tumbuh walaupun impor naik.
"Jadi, walaupun impor naik tetapi karena ekspornya naik maka pelebaran CAD masih sangat sehat, bisa di bawah 2,5 persen PDB dan mungkin bisa di bawah 2,3 persen PDB," ujarnya.
Lebih lanjut, Mirza mengatakan stance (posisi kebijakan) BI saat ini netral bila memperhatikan kondisi ekonomi global saat ini. Ekonomi dunia juga terus menguat dengan adanya revisi ke atas terhadap PDB Eropa, Tiongkok, dan Jepang.
“Artinya quantitative easing yang dilakukan Jepang dan Uni Eropa berhasil mengangkat ekonomi mereka. Namun inflasi mereka masih di bawah target 2 persen,” jelas Mirza.
Eropa, menurut Mirza, masih akan terus mempertahankan kebijakan quantitative easing walaupun dengan jumlah stimulus yang lebih kecil. Jepang juga akan melakukan hal yang sama.
Sementara AS sudah tidak lagi melakukan quantitative easing untuk mulai menurunkan size dari balance sheet negara tersebut. Dengan begitu, AS akan mengurangi jumlah uang yang beredar.
“Tapi itu bukan sesuatu yang mengejutkan,” jelas dia.
AS, menurut Mirza, sudah melakukan pengumuman dahulu dengan sangat hati-hati di bulan Oktober untuk mengurangi balance sheet bank sentralnya sekitar USD6 miliar sehingga tidak mengejutkan pasar.
“Pasar sudah price in bahwa bulan Desember suku bunga AS akan naik lagi. Kalau pasar sudah price in, tidak ada suatu kejutan jadi semuanya predictable,” urai Mirza.
Pada 2018, apabila memang tren suku bunga AS terus akan naik yang diperkirakan akan terjadi sebanyak tiga kali, sementara Eropa dan Jepang masih tetap melakukan quantitative easing, maka dengan inflasi Indonesia yang rendah di angka 3,5 persen pada tahun depan, CAD Indonesia akan berada pada posisi yang diperkirakan BI di kisaran 2,3-2,5 persen.
Apabila Indonesia bisa menjaga inflasi, neraca pembayaran, dan CAD maka stabilitas ekonomi Indonesia masih akan terjaga.
“Pertumbuhan ekonomi akan lebih baik dari tahun ini,” ujar Mirza.