JAKARTA
Pemerintah mengatakan resesi yang akan dialami Indonesia pada 2020 ditandai dengan proyeksi pertumbuhan pada kuartal ketiga yang sebesar minus 2,9 persen hingga minus 1 persen.
Dengan begitu, maka Indonesia mencatat pertumbuhan negatif dalam dua kuartal beruntun setelah pada kuartal kedua tumbuh minus 5,32 persen.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan untuk mempermudah pemahaman maka definisi resesi sering dipahami dengan adanya pertumbuhan ekonomi negatif dalam dua kuartal berturut-turut.
“Rule of thumb (aturan praktis) ini untuk memudahkan masyarakat dan pengambilan keputusan bisnis terkait resesi, karena secara substansial pengertian resesi tidak semudah itu,” ungkap Febrio dalam konferensi pers virtual, Jumat.
Febrio mengatakan secara substansi, resesi tidak terjadi secara tiba-tiba karena merupakan proses perlambatan kegiatan ekonomi secara keseluruhan.
Dia mengatakan Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi negatif pada periode 1997-1998 dan kembali terulang saat ini akibat pandemi Covid-19.
Febrio mengatakan tanda-tanda perlambatan ekonomi Indonesia mulai terlihat sejak kuartal pertama dengan pertumbuhan saat itu terkoreksi signifikan dengan tumbuh hanya 2,97 persen dari biasanya tumbuh 5 persen.
“Begitu ada pertumbuhan di bawah 5 persen langsung jadi pertanyaan apakah akan terjadi berkepanjangan,” kata dia.
Febrio mengatakan perlambatan pertumbuhan berkepanjangan ini yang disebut resesi dan saat ini sudah terjadi di Indonesia dengan proyeksi pertumbuhan di kuartal ketiga masih dalam teritorial negatif.
“Harapannya pada kuartal keempat akan membaik dan ini menjadi fokus kita, walaupun sepanjang tahun ini sebenarnya kita resesi,” tambah Febrio.
Akan tetapi, dia mengatakan pertumbuhan pada kuartal ketiga walaupun negatif, mulai membaik dari kondisi pada kuartal kedua dan diharapkan akan kembali membaik pada kuartal keempat.
“Seluruh dunia juga mengalami hal ini seperti India yang pada kuartal kedua terkontraksi 23,9 persen dan pada kuartal ketiga belum terlalu membaik dengan proyeksi pertumbuhan minus 6,6 persen,” urai Febrio.
Kondisi serupa menurut dia juga terjadi di Thailand yang pada kuartal kedua tumbuh minus 12,2 persen dan pada kuartal ketiga diperkirakan masih minus 9,3 persen.
“Indonesia walaupun pada kuartal kedua pertumbuhannya jelek, tapi dibandingkan negara lain kita masih lebih baik, begitu pun pada proyeksi kuartal ketiga,” tambah dia.
Febrio mengatakan kondisi perlambatan ekonomi ini terjadi secara global karena sumber krisisnya sama, yakni Covid-19 yang belum ada tanda-tanda akan mereda.
Selain itu, Febrio mengatakan tiap negara juga mengambil langkah agresif dari sisi fiskal, termasuk Indonesia yang mendorong defisit anggaran 2020 menjadi 6,34 persen yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bahkan pada krisisi 1998 defisit anggaran hanya sekitar 4 hingga 5 persen.
Dengan melebarnya target defisit tersebut, berarti pemerintah akan mengambil utang lebih banyak karena uang dari penerimaan tidak cukup untuk membiayai belanja yang lebih banyak.
“Bank Dunia bahkan sudah menghitung lebih dari 92 persen negara di dunia akan krisis dengan pertumbuhan ekonomi negatif,” kata dia.
Febrio menyatakan bahwa perlambatan ekonomi di Indonesia relatif lebih landai dibandingkan negara lainnya, walaupun menurut dia masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa pemerintah bisa efektif dalam menangani dampak Covid-19 terhadap perekonomian.
Sementara itu, sepanjang 2020 pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen, atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen.
news_share_descriptionsubscription_contact
