20 Juli 2026•Update: 20 Juli 2026
Sekretaris Jenderal Dewan Eropa Alain Berset mempertanyakan sejumlah kebijakan dan praktik FIFA selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Dia menyoroti isu integritas kompetisi, mulai dari keputusan disiplin, dugaan pengaruh politik, rasisme, hingga meningkatnya peran industri taruhan dalam turnamen.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada Minggu, Berset menyinggung sejumlah kontroversi yang mewarnai turnamen.
"Sanksi yang ditangguhkan karena tekanan, hanya dalam hitungan hari, tanpa alasan yang dijelaskan. Otoritas wasit dipertanyakan. Pelecehan rasial terhadap pemain, sebagian bahkan dilakukan oleh pejabat terpilih. Taruhan pada setiap umpan, setiap kartu, setiap sepak pojok," tulisnya.
"Perayaan akan berakhir malam ini. Pertanyaannya tidak," lanjut Berset.
Menurut Berset, tantangan berikutnya yang dihadapi dunia sepak bola berakar pada persoalan uang dan kekuasaan, terutama terkait besarnya pengaruh industri taruhan.
Ia mengatakan praktik taruhan kini tidak lagi hanya berfokus pada hasil akhir pertandingan, tetapi juga pada momen-momen tertentu yang dilakukan seorang pemain tanpa mengubah skor.
"Taruhan dimenangkan dengan membuat pihak lain kalah. Ini membuka peluang bagi kecurangan. Dan Piala Dunia kali ini telah membuka pintu itu lebih lebar. Untuk pertama kalinya, FIFA menerima perusahaan pasar prediksi sebagai mitra resmi, bahkan di dalam stadion," ujarnya.
Berset juga mengkritik keputusan FIFA yang menangguhkan sanksi larangan bermain satu pertandingan secara otomatis terhadap penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun setelah menerima kartu merah.
Presiden FIFA Gianni Infantino sebelumnya membela keputusan tersebut dengan menyatakan bahwa komite disiplin FIFA mengambil keputusan secara independen berdasarkan peraturan yang berlaku dan fakta-fakta dalam kasus tersebut.
Namun, Berset menilai keputusan yang diambil tidak lama setelah percakapan melalui telepon antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Infantino menunjukkan bahwa "pengaruh politik juga telah masuk ke lapangan."
"Sanksi yang ditangguhkan di tengah turnamen terjadi setelah seorang kepala negara menelepon Presiden FIFA. Ketika aturan berubah karena tekanan, maka setiap hasil pertandingan menjadi layak dipertanyakan," katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Berset mengusulkan dimulainya dialog kerja sejak malam final guna membangun kerangka integritas bagi Piala Dunia 2030 sebelum turnamen itu digelar.
Ia berharap berbagai persoalan yang muncul pada Piala Dunia 2026 tidak terulang pada edisi 2030 yang akan menandai 100 tahun penyelenggaraan Piala Dunia.
Piala Dunia FIFA 2026 diwarnai berbagai kontroversi, baik di dalam maupun di luar lapangan, mulai dari isu kepemimpinan wasit, rasisme, dugaan pengaruh politik, hingga tata kelola sepak bola yang menjadi sorotan dunia.
Meski turnamen menghadirkan banyak pertandingan dramatis pada fase gugur, perdebatan mengenai integritas pengambilan keputusan serta tindakan para pejabat, politisi, dan otoritas sepak bola semakin mendominasi perhatian publik.