Iqbal Musyaffa
07 Januari 2020•Update: 09 Januari 2020
JAKARTA
Pemerintah mengatakan penerimaan negara sepanjang tahun 2019 hanya 90,4 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN 2019.
Menurut Kementerian Keuangan, dalam APBN 2019 target penerimaan ditetapkan sebesar Rp2.165,1 triliun namun hanya terealisasi Rp1.957,2 triliun.
“Realisasi penerimaan tersebut tumbuh 0,7 persen dari tahun 2018,” jelas Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jakarta, Selasa.
Dia mengatakan penerimaan tersebut terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp1.545,3 triliun (86,5 persen dari target APBN tahun 2019), Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp405 triliun (107,1 persen dari target APBN tahun 2019) dan hibah sebesar Rp6,8 triliun.
Terkait penerimaan perpajakan, walaupun tidak memenuhi target Rp1.786,4 triliun, namun capaian penerimaan perpajakan tersebut tumbuh 1,7 persen dari realisasi di tahun 2018 sebagai dampak perlambatan ekonomi global pada kegiatan perekonomian nasional.
“Selain itu, pajak sebagai instrumen fiskal juga tetap diarahkan untuk mendorong daya saing ekonomi nasional melalui pemberian insentif dan kebijakan percepatan restitusi pada dunia usaha,” jelas Menteri Sri Mulyani.
Dia mengatakan pada sisi lain, pertumbuhan penerimaan cukai hasil tembakau (CHT) masih relatif cukup baik di tahun 2019.
Realisasi PNBP mencapai Rp405 triliun atau 107,1 persen dari APBN 2019 meski dipengaruhi oleh menurunnya penerimaan migas sebagai dampak harga ICP, lifting migas, serta harga batu bara yang lebih rendah.
Namun kinerja pendapatan kekayaan negara yang dipisahkan, terutama dari surplus BI, dan PNBP Kementerian/Lembaga (K/L) memberikan kontribusi yang cukup besar untuk menjaga pencapaian PNBP di tahun 2019.