İqbal Musyaffa
27 Maret 2019•Update: 28 Maret 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) menekankan pentingnya konsistensi kebijakan yang perlu dilanjutkan dengan bersinergi bersama pemerintah dalam mengakselerasi reformasi struktural.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan reformasi struktural diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, khususnya melalui peningkatan daya saing, perbaikan infrastruktur, perbaikan iklim investasi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Reformasi kedua adalah bagaimana upaya mendorong industri di Indonesia,” ungkap Perry dalam peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2018 di Jakarta, Rabu.
Perry mengatakan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung dengan harga komoditas sehingga industrialisasi perlu lebih didorong.
Menurut dia, pemerintah perlu memperkuat reformasi struktural untuk mendorong ekspor produk otomotif, tekstil garmen, elektronik, dan alas kaki serta sektor strategis lainnya untuk meningkatkan perekonomian dari sisi ekspor.
Perry juga menekankan Indonesia perlu mendorong industri sebagai substitusi impor seperti pada sektor baja dan farmasi. Selain itu, pengembangan pariwisata juga menjadi prioritas yang harus dilakukan.
“Strategi selanjutnya, kita juga harus bisa memanfaatkan ekonomi dan keuangan digital yang inklusif,” ungkap Perry.
Menurut dia, pengembangan ekonomi dan keuangan digital bisa mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengangkat sektor UMKM dan pariwisata serta inklusi keuangan.
Perry menekankan pengembangan ekonomi dan keuangan digital perlu dilakukan melalui integrasi ecommerce dengan fintech, mendorong digitalisasi dari perbankan, dan mengaitkan fintech dengan perbankan digital.
Dia menambahkan upaya meningkatkan inovasi keuangan dan ekonomi digital juga perlu diiringi upaya menjaga risk management dan menyikapi peran asing dalam membangun ekonomi digital.
“Ekonomi digital dapat menjadi bagian dalam ekonomi Indonesia ke depan,” imbuh Perry.