İqbal Musyaffa
27 Maret 2019•Update: 28 Maret 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) menyebut kondisi ekonomi Indonesia pada 2019 lebih mudah untuk mendukung stabilitas keuangan menjadi lebih stabil dari 2018.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menjelaskan selama kurun waktu 2013 hingga 2018 Indonesia dan negara berkembang lainnya menghadapi kenaikan suku bunga the Fed AS dari 0,25 menjadi 2,5 persen.
Mirza menceritakan pada tahun 2013 hingga 2018 ekonomi AS membaik dan tumbuh kencang hingga 2,9 persen. Pertumbuhan ini sangat besar untuk negara dengan ukuran ekonomi mencapai USD20 triliun.
Oleh karena itu, the Fed selaku bank sentral AS perlu menyesuaikan dengan menaikkan suku bunga hingga empat kali untuk mencegah bubble ekonomi dan inflasi yang tinggi di AS.
“Itu yang membuat volatilitas di emerging market,” jelas dia dalam peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2018 di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, suku bunga the Fed kini sudah hampir mentok dan mungkin hanya akan naik sekali hingga 2020.
“Ini akan banyak bantu stabilitas dengan kembali masuknya dana-dana dari negara maju ke Indonesia,” jelas Mirza.
Mirza menjelaskan Indonesia sudah kembali menikmati aliran modal asing masuk sejak triwulan IV tahun lalu melalui obligasi dan saham. Masuknya modal asing masih berlanjut hingga triwulan I tahun ini.
“Inflow dana di pasar saham dan obligasi akan terus berlanjut sehingga menambah funding capacity Indonesia untuk bisa tumbuh,” urai Mirza.
Dia menambahkan kondisi resesi di Amerika Serikat juga akan memberi andil pada membaiknya kondisi ekonomi Indonesia.
“Resesi AS kami lihat akan membuat suku bunga AS tidak naik dan membantu Indonesia untuk pembiayaan CAD dan masuknya dana portofolio,” tambah dia.
Menurut dia, BI bersama pemerintah, OJK, dan LPS untuk mendorong reformasi struktural dengan mendorong ekspor dan pariwisata, menekan impor, serta diversifikasi energi dengan mengurangi energi fosil menuju renewable energy.
“Ini akan membuat current account deficit (CAD) makin stabil sehingga funding bisa masuk lebih banyak lagi untuk membangun negeri,” urai Mirza.
Selain itu, Mirza juga mengatakan tantangan bagi ekonomi Indonesia terdapat pada adanya resesi ekonomi di China. Pada 2010-2011 ekonomi China tumbuh 10 persen dan pada 2013-2018 melambat dengan tumbuh hanya 6,4 persen.
“Perlambatan ekonomi China berdampak besar pada ekspor Indonesia karena ekspor Indonesia besar sekali ke China,” urai Mirza.
Dia menambahkan lebih dari 25 persen ekspor Indonesia ke China berupa komoditas pertambangan dan perkebunan yang harganya sedang turun.
Mirza mengatakan besarnya ekspor Indonesia ke China membuat sensitivitas ekonomi China lebih berdampak pada ekonomi Indonesia. Pada tahun ini ekonomi China diperkirakan melambat ke level 6,3 persen.
“Tetapi perlambatan itu masih dalam skenario,” lanjut dia.
Mirza mengatakan perlu ada pembahasan khusus dengan membuat skenario baru bari perekonomian apabila ekonomi China tumbuh melambat di bawah 6 persen.