Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Dunia menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 berjalan stabil di tengah gejolak global dan rangkaian bencana alam yang melanda.
Berdasarkan laporan triwulanan perekonomian Indonesia edisi Juni 2019 yang dikeluarkan Bank Dunia hari ini, Senin, mengungkapkan stabilitas tersebut akibat kebijakan makroekonomi yang terkoordinasi dan hati-hati.
Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste Rodrigo A. Chaves mengatakan pada kuartal pertama tahun 2019 pertumbuhan PDB riil Indonesia tetap stabil di tingkat 5,1 persen.
Dia menambahkan meski terjadi gejolak global, ekonomi Indonesia tumbuh pada tingkat yang konsisten dengan pertumbuhan PDB triwulanan antara 4,9 hingga 5,3 persen selama 3,5 tahun terakhir.
“Manajemen ekonomi Indonesia yang bijaksana telah membuahkan hasil, meski pada tahun 2018 arus keluar modal dari pasar negara-negara berkembang lebih besar dari pada saat Amerika Serikat meningkatkan tingkat suku bunga pada tahun 2013,” jelas Chaves.
Dia mengungkapkan di tengah gejolak tersebut ekonomi Indonesia tetap kuat sehingga membantu menurunkan tingkat kemiskinan ke rekor terendah sebesar 9,7 persen pada September 2018.
“Untuk mempercepat pertumbuhan dari tingkat sekarang, Indonesia membutuhkan reformasi struktural lebih banyak dan berkesinambungan, sambil mempertahankan kebijakan fiskal dan moneter yang kokoh,” urai Chaves.
Chaves melanjutkan selama kuartal pertama 2019 terjadi peralihan pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Laporan Bank Dunia juga menyebut pertumbuhan investasi mulai menurun dari tingkat tertinggi selama beberapa tahun, sebaliknya konsumsi masyarakat dan pemerintah meningkat.
Hal ini membantu mengurangi tekanan pada defisit neraca berjalan yang besar pada tahun 2018, sebagian akibat impor yang dipakai untuk investasi infrastruktur dan swasta.
“Ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh sebesar 5,1 persen pada tahun 2019, kemudian naik menjadi 5,2 persen pada tahun 2020,” ungkap Chaves.
Dia menjelaskan proyeksi ini didukung oleh konsumsi masyarakat, yang diperkirakan akan terus meningkat karena inflasi tetap rendah dan pasar tenaga kerja yang kuat.
Selain itu, posisi fiskal yang lebih kuat akan memungkinkan bertambahnya investasi pemerintah termasuk proyek infrastruktur baru dan upaya rekonstruksi di Lombok dan Palu pasca bencana alam.
“Risiko terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia telah meningkat dengan adanya eskalasi ketegangan global belum lama ini yang bisa membebani perdagangan dunia,” lanjut dia.
Laporan edisi kali ini juga membahas pentingnya ekonomi maritim bagi pembangunan ekonomi Indonesia dan pertumbuhan berkelanjutan.
World Bank Practice Manager for Environment and Natural Resources Ann Jeannette Glauber mengatakan laut bisa memberi kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian melalui pendapatan yang lebih tinggi dari pariwisata dan perikanan jika dikelola dengan lebih baik.
Dia menekankan bahwa melindungi aset maritim Indonesia dari perubahan iklim dan sampah laut sangat penting untuk meningkatkan potensinya.
“Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmen kuat untuk menjadikan negara ini sebagai kekuatan maritim global,” lanjut Glauber.
Dia menambahkan untuk memanfaatkan potensi penuh aset laut dan pesisir, Indonesia membutuhkan kebijakan dan investasi untuk mengurangi sampah laut plastik.
Kedua hal tersebut juga dapat membantu untuk mengelola perikanan secara berkelanjutan, melindungi terumbu karang dan habitat pantai untuk meningkatkan mata pencaharian pesisir serta meningkatkan citra Indonesia sebagai lokasi pariwisata laut bermutu tinggi.
news_share_descriptionsubscription_contact
