Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Dunia menyebut tingkat konsumsi rumah tangga (KRT) masyarakat Indonesia pada triwulan ketiga tahun ini mulai pulih.
Kepala Ekonom Bank Dunia Frederico Gil Sander, Kamis, berucap tingkat KRT berada pada posisi 5,5 persen setelah sempat melambat pada triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh 4,95 persen.
Pemulihan ini, menurut Sander, akibat dari stabilnya tingkat inflasi terutama pada harga bahan makanan serta nilai tukar rupiah yang juga terjaga.
Penurunan tingkat pengangguran dari 5,6 persen pada Agustus 2016 menjadi 5,5 persen pada Agustus tahun ini, menurut dia, juga menjadi salah satu pemicu perbaikan konsumsi masyarakat.
“Indikasi lemahnya konsumsi masyarakat pada triwulan kedua mulai mereda,” ujar Sander.
Sander juga melihat penjualan barang-barang konsumsi tahan lama seperti motor dan mobil sudah kembali pulih.
Meskipun tingkat konsumsi mulai pulih, Sander mengatakan, pertumbuhan sektor ritel masih tetap melemah. Sektor ritel ternyata tidak bisa mengikuti perubahan perilaku konsumen.
Masyarakat saat ini mulai mengalihkan konsumsi ke sektor jasa dengan sekitar 37 persen di antaranya untuk konsumsi non-makanan. Akan tetapi, rendahnya pertumbuhan sektor ritel menurut Sander masih belum bisa disebut karena pertumbuhan sektor e-commerce.
“E-commerce sepertinya bukan menjadi penyebab utama karena pertumbuhannya masih kurang dari 2 persen, tetapi memang [e-commerce] sedang tumbuh cepat,” ungkap dia.
Lebih lanjut, ia mengakui tingkat konsumsi masyarakat pada tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, masa lebaran mampu menggerek tingkat konsumsi masyarakat.
“Namun, hal itu tidak terjadi tahun ini,” ujar Sander.
Pada lebaran tahun ini, tingkat KRT hanya tumbuh 4,5 persen. Sementara pada lebaran tahun 2016 dan 2015 tingkat konsumsi bahkan tumbuh di atas 5,5 persen.
Bank Dunia mengindikasikan ada tiga faktor utama yang membuat tingkat konsumsi masyarakat pada tahun ini melemah.
“Ketiga penyebab tersebut antara lain kenaikan tarif listrik, kebijakan pajak, serta ketidakpastian politik,” ungkap Sander.
Kenaikan tarif listrik untuk golongan rumah tangga dengan kapasitas 900 VA, menurut dia, sangat berpengaruh pada pelambatan daya beli masyarakat.
“Penerapan subsidi yang tepat menjadi sangat penting, khususnya bagi rumah tangga miskin,” terang dia.
Selanjutnya, kebijakan amnesti pajak yang sempat dilakukan pemerintah pada triwulan kedua juga memukul tingkat konsumsi masyarakat.
“Masyarakat cenderung menahan pengeluaran karena pemerintah mengetatkan tingkat kepatuhan pajak para wajib pajak,” ungkap Sander.
Faktor ketiga yang melemahkan tingkat konsumsi selanjutnya adalah ketidakpastian situasi politik terutama pada saat Pilkada DKI Jakarta lalu yang ternyata berefek pada lemahnya konsumsi.
news_share_descriptionsubscription_contact


