Iqbal Musyaffa
22 Juni 2020•Update: 23 Juni 2020
JAKARTA
Pemerintah mengatakan arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia menambah tekanan terhadap APBN 2020,
Menteri Keuangan mengatakan pada Januari hingga Juni terjadi arus modal asing keluar dari pasar saham sebesar Rp12,3 triliun, sementara pada tahun lalu arus modal asing yang masuk ke saham mencapai Rp68,8 triliun.
“Pada pembelian surat utang negara juga mengalami negatif karena sebanyak Rp127,9 triliun modal asing keluar, sementara pada tahun lalu ada inflow Rp95 triliun,” ujar Menteri Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin.
Dengan begitu, secara keseluruhan arus modal asing yang keluar dari pasar Indonesia mencapai Rp140,2 triliun, berbanding terbalik dari tahun lalu yang tercatat ada Rp164 triliun arus modal asing masuk.
Dia menjelaskan walaupun tertekan, APBN 2020 adalah instrumen utama untuk menghadapi pukulan terhadap pelemahan perekonomian akibat dari lemahnya penerimaan dan harga komoditas.
Menteri Sri Mulyani mengatakan pemerintah menganggarkan biaya Rp695,2 triliun untuk penanganan Covid-19 sehingga defisit APBN membengkak dari 1,76 persen dalam Undang-Undang APBN 2020 menjadi 6,34 persen.
“Dengan tambahan stimulus yang kita berikan, kita berharap ekonomi tetap tumbuh positif, walau ada kemungkinan turun ke minus 0,4 persen,” lanjut dia.
Menteri Sri Mulyani mengatakan secara keseluruhan pada 2020 defisit anggaran akan sebesar Rp1.039,2 triliun.
Hal ini terjadi karena penerimaan negara diperkirakan hanya sebesar Rp1.699 triliun --dari target Rp2.233 triliun dalam Undang-Undang APBN 2020-- sementara belanja negara akan mencapai Rp2.739,2 triliun.
Menurut dia, RAPBN 2021 tetap akan digunakan menghadapi tekanan Covid-19 dan untuk mendukung proses pemulihan ekonomi.