Muhammad Nazarudin Latief
10 Januari 2019•Update: 10 Januari 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Tentara Arakan, kelompok separatis di negara bagian Rakhine, Myanmar, menolak sebutan sebagai organisasi teroris, lansir media lokal.
Kelompok militan ini mengaku sebagai organisasi yang memperjuangkan hak penduduk asli Rakhine dalam hal kebebasan, kesetaraan dan menuntut otonomi lebih besar.
Mereka juga menyatakan tidak pernah bekerja sama dengan organisasi teroris.
“Liga Persatuan Tentara Arakan/Arakan (ULA/AA) adalah organisasi yang bekerja sama dengan penduduk asli Rakhine yang berjuang untuk pembebasan warga negara Rakhine, kesetaraan dan otonomi, kata pernyataan itu.
“Kita dapat membedakan siapa kawan, siapa lawan dan teroris sepanjang perjuangan ini, sebagaimana amanat nenek moyang kita di Rakhine.
“Sejarah dan tindakan kami telah membuktikan bahwa kami tidak akan pernah bergandengan tangan dengan teroris kapan pun. Kami berani bersumpah tidak pernah berkolaborasi dengan teroris di masa depan, kata pernyataan itu.
Zaw Htay, juru bicara Kantor Presiden, mengatakan pada jumpa pers yang diadakan di Istana Kepresidenan di Nay Pyi Taw 7 Januari, bahwa Tatmadaw (militer Myanmar) keberatan dengan keberadaan dua kubu Arakan Army dan tiga kamp Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) di sisi Bangladesh.
“Cukup sulit untuk membasmi Arakan Army karena itu bukan wilayah yang dimiliki Myanmar. Mereka bisa lari ke tempat lain jika mereka menghadapi kesulitan.” ujar Zaw Htay.
Menurut Zaw Htay, ARSA adalah organisasi teroris. Kerja sama Arakan Army dan ARSA masalah pada Mro dan Dienet, suku Rakhine dalam serangan teroris sebelumnya.
“Kami ingin AA menghindari tindakan yang dapat mendorong ARSA secara politis dan militer, ”kata Zaw Htay.
Negosiasi dilakukan antara AA dan ARSA. ARSA aktif di barat gunung Mayu di Negara Bagian Rakhine dan Arakan Army di timur. Bagian barat dan timur gunung Mayu adalah daerah aktif yang ditunjuk, kata Zaw Htay.
Kami ingin Arakan Army datang ke tahap dialog politik untuk berdiskusi dengan komisi perdamaian tentang kesetaraan etnis seperti kelompok-kelompok bersenjata etis yang tersisa dan tidak untuk memulai operasi yang mendukung organisasi teroris dan tidak bekerja sama dengan mereka, kata Zaw Htay.
Menurut pernyataan dari Arakan Army, ultimatur Zaw Htay adalah penghinaan bagi seluruh rakyat Rakhine.
“Arakan Army tidak akan pernah takut dengan kata-kata Zaw Htay yang mengancam. Arakan Army terus melakukan apa yang seharusnya dilakukan dan harus melayani kepentingan orang-orang Rakhine sampai kami mencapai tujuan kami, kata pernyataan itu.
AA akan bergerak menuju tujuan kita dengan berpegang pada keyakinan kita untuk melarikan diri dari kehidupan yang menindas dan untuk memperjuangkan kebenaran, kata pernyataan itu.
Selain itu, kami akan menolak semua bentuk penindasan tanpa syarat. Kami selalu berpose untuk berbicara damai, kata pernyataan itu.