Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
23 Januari 2020•Update: 24 Januari 2020
James Reinl
PBB
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melukiskan gambaran apokaliptik tentang hubungan global dan memperingatkan versi modern dari "empat penunggang kuda" - merujuk pada kisah dalam alkitab - dalam pidato kepada para diplomat.
Berbicara kepada Majelis Umum PBB, Guterres mengatakan bahwa 7,7 miliar orang di dunia menghadapi bahaya eksistensial dari ketegangan geopolitik, krisis iklim, ketidakpercayaan global dan sisi gelap teknologi.
"Saya melihat empat penunggang kuda di tengah-tengah kita - empat ancaman menjulang yang membahayakan kemajuan abad ke-21 dan membahayakan kemungkinan abad ke-21," kata Guterres kepada badan yang beranggotakan 193 negara itu.
Dalam kitab suci umat Kristen, keempat penunggang kuda mewakili wabah, perang, kelaparan dan kematian.
“Konflik yang menghancurkan terus menyebabkan kesengsaraan yang meluas. Serangan teroris menelan korban tanpa ampun. Ancaman nuklir sedang tumbuh. Semakin banyak orang diusir dari rumah mereka oleh perang dan penganiayaan daripada yang terjdi sejak Perang Dunia Kedua," ujar dia.
Guterres memperingatkan tentang keselamatan lebih dari tiga juta warga sipil di Idlib, Suriah barat laut, yang dikuasai pemberontak, di mana serangan militer pemerintah bertujuan menjerumuskan kembali wilayah dalam perang sipil yang brutal.
Dalam beberapa hari terakhir, Sekjen PBB juga telah bekerja dengan Jerman dan kekuatan lain untuk menuntaskan rencana perdamaian untuk menghentikan pemerintah mempersenjatai milisi Libya dan mengakhiri kekerasan yang telah mengganggu eksportir minyak Afrika utara.
Guterres bercerita tentang krisis iklim eksistensial dan kenaikan suhu yang melelehkan es di kutub, mengancam kehidupan dan mendorong planet kita ke titik yang tidak bisa kembali ke awal, sementara para pembuat kebijakan duduk berpangku tangan.
"Para ilmuwan memberi tahu kami bahwa suhu laut sekarang naik setara dengan lima bom Hiroshima per detik," kata Guterres.
“Satu juta spesies dalam bahaya kepunahan jangka pendek. Planet kita terbakar," tambah dia.
Untuk menjawab ancaman-ancaman ini, Guterres meminta para pemimpin untuk mendukung sistem PBB dan mengumumkan "tindakan satu dekade" periode 2020-an untuk fokus pada cara-cara baru untuk mempromosikan globalisasi yang adil.
Pada pertemuan yang sama, Duta Besar Norwegia untuk PBB Mona Juul mendesak negara-negara untuk bersatu di belakang badan dunia untuk mencapai target anti-kemiskinan dan keberlanjutan dalam apa yang dikenal sebagai Agenda 2030.
"Tanpa multilateralisme yang efektif, kami tidak akan mencapai Agenda 2030 atau menyelesaikan tantangan seperti perubahan iklim, polusi laut, keanekaragaman hayati, migrasi tidak teratur atau ancaman keamanan baru," kata Juul atas nama negara-negara Nordik.