Rindu al-Aqsa pada Indonesia
Berangkat ke Masjid al-Aqsa seperti pulang ke rumah sendiri
Regional
Shenny Fierdha
JAKARTA
Kawasan Masjid al-Aqsa, Yerusalem, terus bergejolak. Tindakan Israel menutup Masjidi al-Aqsa menciptakan gelombang protes mendunia.
Kompleks Masjid al-Aqsa selama ini memang berada dalam cengkaraman Israel. Mereka pun tak segan menembakkan timah panas terhadap warga Palestina yang melawan. Namun situasi panas di jantung Palestina tersebut tak menyurutkan tekad kaum muslim menapaki Masjid al-Aqsa. Tak terkecuali warga negara Indonesia (WNI).
Pemandu wisata religi yang berbasis di Jakarta Arifin Nugroho (36), wisatawan lokal Sidiq Gandi Baskoro (32) dan Nina Sulistina binti Sudrajat (40) merupakan segelintir WNI yang beruntung pernah menginjakkan kaki di Masjid al-Aqsa. Walau ketiganya pergi dalam waktu berbeda, namun pengalaman yang mereka rasakan tak jauh berbeda.
Dalam setahun, Arifin setidaknya pergi ke al-Aqsa 2 kali. Ia bertugas memandu rombongan WNI yang menziarahi al-Aqsa. Kunjungan terakhirnya Februari tahun ini.
Arifin pertama kali menginjakkan kaki ke di simbol suci itu pada 2008. Menurutnya, pengalaman perdana ke kawasan Haram al-Syarif tersebut tak bisa tergantikan. Rasanya sangat khusyuk dan nyaman.
“Saya merasa sangat dekat dengan Allah seolah-olah ada magnet di tempat itu. Sholat di sana pun rasanya seperti sholat di seputaran Ka’bah dan Masjid Nabawi,” ujar alumni Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) ini kepada Anadolu Agency.
Arifin mengatakan, warga Palestina tidak seperti warga terjajah pada umumnya. Mereka enggan menampakkan kesulitan akibat kelaliman pihak Israel. Mereka juga tidak mau menjadikan derita untuk menadah rasa kasihan maupun uang dari peziarah Masjid Al-Aqsa.
“Mereka tampak bangga tinggal di sana walau harus bertaruh nyawa menjaga Masjid Al-Aqsa,” ucap Arifin yang kerap mengisi acara di salah satu stasiun televisi swasta ini.
Perasaan emosional juga dirasakan Siddiq Ghandi ketika mendatangi Masjid al-Aqsa. Rasa haru, rindu, takjub menyatu dalam hatinya. Pria yang sehari-hari menjadi pegawai negeri sipil ini tidak percaya bisa sujud di kiblat pertama Muslim sedunia ini.
“Rasanya damai sekali. Seolah-olah kami pulang ke rumah sendiri,” imbuhnya yang kini menempuh S2 di Ternate ini.
Tak hanya itu, sambutan warga Palestina pun luar biasa. Rasa persaudaraan begitu kental dengan masyarakat Indonesia.
“Kami seperti keluarga yang mereka rindukan. Mereka sangat ramah dan senang dengan Indonesia. Ada di antara kami yang diberikan tasbih,” kenang pria asal Karanganyar ini.
Interogasi Israel
Namun, upaya menembus al-Aqsa tidak selalu mulus. Ketika memasuki perbatasan Palestina, bus rombongan Siddiq dihentikan. Ada 2 orang tentara Israel masuk. Mereka bersenjata lengkap. Setiap penumpang diminta menunjukkan paspor.
“Kami di dalam bus tegang. Tidak ada satu pun yang berani bicara. Ketua rombongan kami berpesan agar tidak sembarangan mengambil foto,” terang alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) ini.
Interogasi di dalam bus lalu berlanjut di loket imigrasi. Siddiq mengaku ditanya banyak hal, antara lain tujuannya ke al-Aqsa dan apakah memiliki saudara di Palestina. “Saya katakan mau travelling. Ada satu teman saya yang diinterogasi sangat lama,” jelasnya.
Sementara itu, kunjungan ke Masjid al-Aqsa membuat Nina Sulistina binti Sudrajat serasa melupakan semua nikmat dunia.
“Terpikir untuk menyombongkan diri di sana [Masjid al-Aqsa] saja tidak. Suasanya sangat khidmat dan tidak ada aura duniawi seperti di negara-negara lain,” imbuh Nina.
Selain menyambangi Masjid al-Aqsa, Nina juga berziarah ke makam para nabi di kota Hebron seperti Nabi Ibrahim AS dan istrinya, Siti Sarah.
“Terharu, tidak menyangka. Apa yang kita baca di al Qur’an dan cerita para ustadz seolah real di depan mata,” kenang ibu rumah tangga asal Bandung ini.
Menurut Nina, kehadiran masyarakat Indonesia menjadi dukungan moril warga Masjid al-Aqsa. “Mereka merasa ada teman karena selama ini terisolir,” tutur ibu tiga anak ini.
Satu hal yang membuat Nina terharu ialah ketegaran masyarakat Palestina dalam menghadapi penindasan oleh Israel.
“Tour guide kami dari Palestina bilang, setiap ia pergi ke luar rumah selalu pamitan karena belum tentu bisa pulang,” Nina kembali mengingat dengan sedih.
Meski Arifin, Nina, dan Siddiq sudah kembali ke tanah air dengan selamat, gambaran akan kondisi Muslim Palestina di sana tetap melekat.
Penutupan al-Aqsa membuka mata dunia
Menurut mereka, andai banyak Muslim mengunjungi Masjid Al-Aqsa, maka akan semakin banyak pula yang mengerti dan tergerak untuk membantu. Bantuannya bisa dengan cara sederhana seperti membahas isu Palestina ke forum-forum diskusi untuk menggalang kesadaran.
“Da'i hendaknya rutin memberitakan kondisi Al-Aqsa kepada umat dan menanamkan kecintaan kepada al-Aqsa,” ujar Siddiq berharap. Ia juga menekankan agar Media hendaknya turut menginformasikan kondisi terkini Masjid al-Aqsa. “Media harus memperjuangkan al-Aqsa,” imbuhnya.
Arifin mengatakan, penutupan Masjid al-Aqsa dampaknya tidak selalu negatif. Sebab dengan kejadian itu semakin membuka mata banyak orang untuk orang jadi lebih mengetahui Masjid al-Aqsa. "Insiden ini bahkan menyatukan umat Islam yang tadinya tercerai-berai jadi punya agenda bersama [untuk membela Palestina].
”Pada Jum'at (14/7), 2 orang aparat keamanan Israel ditembak oleh pria bersenjata keturunan Arab di dekat kawasan Masjid al-Aqsa. Dua pria Arab itu lalu ditembak mati oleh tentara Israel. Akibat kejadian ini, kawasan Masjid al-Aqsa ini lalu ditutup pemerintah Israel dengan alasan keamanan.
Dua hari kemudian, Israel memasang detektor logam di gerbang Masjid al-Aqsa. Setelah mendapat protes dan kecaman internasional, Israel mencabut detektornya Selasa lalu.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
