Rhany Chairunissa Rufinaldo
22 Mei 2020•Update: 22 Mei 2020
Ali Murat Alhas
ANKARA
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Libya pada Kamis mengatakan bahwa pemerintah berusaha untuk mengamankan kendali semua wilayah di negara itu, termasuk yang saat ini berada di bawah kendali komandan pemberontak Khalifa Haftar.
"Tujuan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) adalah untuk membangun kendali yang aman atas semua wilayah Libya," kata Mohamed Geblawi.
Menurut dia, hal itu diperlukan untuk memungkinkan dialog politik yang produktif di antara semua warga Libya yang berbagi visi negara sipil dan demokratis.
Tentara Libya baru-baru ini memberikan pukulan telak pada militan Haftar dengan operasi udara yang menghancurkan sistem pertahanan udara Pantsir buatan Rusia.
Salah satu prestasi tentara yang paling signifikan adalah merebut kembali pangkalan udara Al-Watiya, pangkalan militer yang secara strategis penting yang berada di bawah kendali Haftar selama bertahun-tahun.
Dalam beberapa hari terakhir, tentara Libya melanjutkan operasi yang membuahkan hasil signifikan, yaitu merebut kembali kendali tiga kota dari Haftar.
Pasukan Haftar melancarkan serangan ke pemerintah Libya sejak April 2019, hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang.
Pemerintah Libya kemudian meluncurkan Operasi Badai Perdamaian pada 26 Maret untuk melawan serangan-serangan di ibu kota.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat pengakuan PBB dan internasional.