Muhammad Nazarudin Latief
30 November 2019•Update: 02 Desember 2019
Sorwar Alam
ANKARA
Sebuah kelompok Rohingya menolak keras pernyataan bersama koalisi pemberontak di Myanmar yang menyebut komunitas Muslim yang dianiaya itu sebagai "Bengali".
Mohammed Ayyub Khan, presiden Organisasi Solidaritas Rohingya (RSO), menyebut pernyataan bersama itu sebagai "tidak berdasar, pemalsuan, dan penyajian yang keliru dari kata Rohingya".
Koalisi kelompok pemberontak - Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang, Tentara Arakan, dan Tentara Aliansi Demokrasi Nasional Myanmar - mengatakan pada Kamis bahwa mereka siap memberikan bukti kejahatan perang oleh militer Myanmar antara 2009 dan 2019 melawan etnis ke pengadilan internasional.
Orang-orang, termasuk "Muslim Bengali", merujuk pada komunitas Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine barat.
"Tapi ironisnya, pernyataan itu menyebutkan kata Bengali bukan Rohingya," kata Khan dalam sebuah pernyataan, menambahkan bahwa pernyataan itu "melukai perasaan Rohingya khususnya dan Muslim pada umumnya".
Dia mendesak kelompok-kelompok pemberontak - yang telah berperang melawan tentara Myanmar di negara bagian Shan dan Rakhine - untuk "memusatkan energi mereka dalam perjuangan mereka melawan tentara Burma [Myanmar] alih-alih kampanye terhadap Rohingya".
"Kami adalah Muslim Rohingya, bukan Muslim Bengali," kata Khan kepada Anadolu Agency
Rohingya, sebuah komunitas etnis Muslim di negara bagian Rakhine Myanmar, telah lama menghadapi penganiayaan sistematis dan genosida oleh militer, menurut beberapa laporan PBB.
Amnesty International mengatakan bahwa lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, kebanyakan wanita, dan anak-anak, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan penumpasan pada komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017, mendorong jumlah orang yang dianiaya di Bangladesh di atas 1,2 juta.
Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh pasukan Myanmar, menurut sebuah laporan oleh Ontario International Development Agency (OIDA)
Lebih dari 34.000 Rohingya tewas terbakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, kata laporan OIDA, berjudul Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman Tak Terungkap.
Sekitar 18.000 perempuan dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak, tambah laporan itu.