Muhammad Latief
03 September 2017•Update: 04 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Ratusan orang dari berbagai organisasi menggelar aksi unjuk rasa menuntut militer Myanmar segera menghentikan kekerasan dan pembunuhan terhadap warga Rohingya di Myanmar, Minggu.
Aksi ini juga meminta pemerintah Indonesia berperan besar menghentikan kekerasan tersebut.
Juru bicara aksi, Romadi Yanto, mengatakan korban tewas akibat aksi brutal militer Myanmar semakin bertambah.
“Perlu upaya luar biasa menghentikan kekejaman tersebut.”
Aksi ini juga menggelar teatrikal yang menggambarkan penderitaan yang dialami etnis Rohingya. Digambarkan anggota militer memukul, menendang dan menembaki warga Rohingya, baik orang tua maupun anak-anak.
Dalam orasinya, Sekjen Komite Advokasi untuk Muslim Rohingya Arakan (Kamra) Bernard Ali Jabbar mengatakan pemerintah Indonesia terkesan lamban menolong korban kekerasan di Myanmar. Padahal ada sekitar 4.000 orang pengungsi yang tidak terurus. Jumlah etnis Rohingya, menurutnya menurun karena banyak yang tewas akibat kekerasan militer.
“Dulu 4 juta orang, sekarang 1 juta yang tersisa. Lama-lama habis kalau tidak ada yang menolong,” ujarnya.
Indonesia, menurutnya, harus mempelopori aksi untuk menyelamatkan etnis Rohingya. Salah satu caranya dengan menekan duta besar Myanmar untuk Indonesia. Langkah selanjutnya jika diperlukan adalah memutus hubungan diplomatik dengan negara tersebut.
Romadi juga menekankan agar pemenang nobel perdamian, Aung San Suu Kyi berperan mengatasi konflik ini. Selama ini, Suu Kyi terkesan membiarkan aksi kekejaman ini.
“Kalau ada caranya, ya, cabut nobel perdamaian untuk Aung San Suu Kyi,” ujarnya.