Rhany Chairunissa Rufinaldo
04 April 2019•Update: 04 April 2019
Umar Farooq
WASHINGTON
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pada Rabu mengatakan Amerika Serikat tampaknya tidak memiliki strategi yang jelas untuk Suriah, dengan sejumlah perbedaan sikap yang berasal dari berbagai bagian pemerintah.
"Posisi dan pernyataan berbeda berasal dari berbagai lembaga dan departemen di sini di Amerika Serikat. Departemen Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan, militer di lapangan, CENTCOM, dan ini dan itu. Semua posisi berbeda," ujar Cavusoglu.
"Tidak ada strategi yang jelas, ini masalahnya," tambah dia.
Komentar Cavusoglu disampaikan pada acara NATO yang diselenggarakan oleh Dewan Atlantik di Washington.
Dia mengatakan dia tidak mengetahui apa kebijakan Amerika di Suriah.
Pada Desember, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa AS akan menarik pasukan Amerika dari Suriah, sebuah langkah yang mengejutkan banyak sekutu Washington.
Pentagon kemudian mengumumkan pada Februari bahwa beberapa ratus tentara akan tetap tinggal di sana setelah penarikan untuk menciptakan zona aman di sepanjang perbatasan Turki-Suriah.
Namun Cavusoglu menekankan bahwa kedua negara telah melakukan berbagai kerja sama, seperti penarikan mundur terkoordinasi dari Suriah, zona aman di sepanjang perbatasan Turki-Suriah dan penerapan peta jalan Manbij.
Kesepakatan Manbij antara Turki dan AS berfokus pada penarikan teroris YPG/PKK dari kota untuk menstabilkan kawasan, yang terletak di bagian utara provinsi Aleppo, Suriah.
"AS telah menjadi salah satu mitra utama kami di Suriah juga. Meskipun kita tidak setuju tentang masalah YPG," kata menteri luar negeri.
Amerika Serikat telah mendukung SDF, sebuah kelompok yang dipimpin oleh PYD/YPG, cabang organisasi teror PKK di Suriah.
Selama lebih dari 30 tahun, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS, dan Uni Eropa - melancarkan kampanye teror melawan Turki dan bertanggung jawab atas kematian hampir 40.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.
Lebih dari 1.200 korban, termasuk personel keamanan dan warga sipil, telah kehilangan nyawa mereka sejak PKK melakukan aksi teror pada Juli 2015.