Dandy Koswaraputra
04 April 2019•Update: 04 April 2019
Erric Permana
JAKARTA
Indonesia meminta adanya aksi dialog global yang mempromosikan toleransi dan perdamaian menyikapi aksi terorisme yang terjadi di Christchurch, Selandia Baru pada 15 Maret 2019 lalu.
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi pada saat pengesahan resolusi Sidang Majelis Umum (SMU) PBB di New York 2 April lalu mengatakan dialog tersebut diperlukan untuk memerangi terorisme dan tindakan kekerasan yang dimotivasi oleh kebencian terhadap agama.
"Tidak ada satu pun negara yang terbebas dari rasisme, intoleransi, dan kebencian," ujar Retno.
Upaya tersebut kata Retno termasuk memajukan dialog antar agama dan antar peradaban di dunia.
Sebagai negara yang terdiri dari berbagai ras, suku etnis, dan agama, Indonesia menyampaikan kesiapannya untuk berbagi pengalaman mengenai kultur kebinekaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Sebelumnya, pada tanggal 15 Maret 2019, Indonesia bersama Kuwait telah mensponsori Press Statement Dewan Keamanan PBB yang mengutuk kejadian keji ini.
Dengan telah disahkannya Resolusi SMU PBB melalui konsensus, maka upaya Indonesia untuk menyikapi secara cepat dan tegas aksi terorisme di Christchurch telah berhasil mendapatkan dukungan lebih luas dari negara-negara di dunia.
Pada saat yang sama, Menlu RI menggarisbawahi pentingnya peran pemerintah dalam menciptakan dan memelihara budaya toleransi di kalangan masyarakat.
Untuk itu, Menlu RI menyampaikan apresiasi kepada pimpinan dan masyarakat Selandia Baru yang cepat bereaksi dan menunjukkan solidaritasnya terhadap umat Muslim pasca aksi terorisme di Christchurch yang menewaskan 50 orang itu.