Ketua Parlemen Turkiye: Diplomasi Turkiye jadi mimpi buruk pemerintah Israel di setiap forum
Turkiye menegaskan tidak dapat mengabaikan penderitaan rakyat Gaza dan terus mengangkat isu tersebut di tingkat global
ISTANBUL
Ketua Parlemen Turkiye Numan Kurtulmus mengatakan diplomasi negaranya kini telah menjadi “mimpi buruk” bagi pemerintah Israel di berbagai platform internasional, seiring konsistensi Ankara menyuarakan pembelaan terhadap rakyat Gaza.
Hal itu disampaikan Kurtulmus saat memberikan kuliah pembukaan dalam acara Ankara Diplomat Academy Camp yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga di Gedung Parlemen pertama Turkiye, yang kini menjadi Museum Perang Kemerdekaan, di Ankara, Kamis (29/1).
“Dengan izin Allah, diplomasi Turkiye di setiap platform mulai menjadi mimpi buruk bagi pemerintah Israel. Ini adalah tanggung jawab historis bagi kami. Kami tidak bisa berkata, ‘Apa urusan kami dengan Gaza,’” ujar Kurtulmus.
Ia menegaskan Turkiye tidak dapat menutup mata terhadap penderitaan rakyat Gaza maupun perkembangan di kawasan, sebagaimana sebelumnya Turkiye juga tidak mengabaikan situasi di Suriah.
Dalam pidatonya, Kurtulmus menyoroti kondisi dunia yang dinilainya tengah memasuki fase penuh ketidakpastian, dengan perubahan besar dan cepat di bidang ekonomi, politik, dan hubungan internasional. Ia menyebut peristiwa global yang sebelumnya membutuhkan waktu puluhan tahun kini dapat terjadi hanya dalam hitungan bulan.
Kurtulmus kembali mengkritik sistem internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang dinilainya gagal menjalankan fungsinya dalam menghentikan konflik dan menegakkan keadilan. Ia menyinggung kebuntuan Dewan Keamanan PBB dalam menyikapi situasi Gaza akibat veto Amerika Serikat, serta kegagalan serupa dalam konflik Rusia-Ukraina.
Menurutnya, struktur Dewan Keamanan PBB yang tidak merepresentasikan seluruh dunia membuat lembaga tersebut tidak lagi efektif dalam menyelesaikan konflik, menghentikan perang, dan mewujudkan perdamaian.
Kurtulmus menekankan perlunya pembentukan sistem global baru yang lebih adil dan berkeadilan. Ia menyebut seruan Presiden Recep Tayyip Erdogan bahwa “Dunia lebih besar dari lima” kini semakin dipahami oleh komunitas internasional.
Ia juga menyoroti tragedi kemanusiaan di Gaza, dengan menyebut puluhan ribu orang telah kehilangan nyawa dalam kurun hampir tiga tahun terakhir. Menurutnya, meskipun ada klaim proses perdamaian, serangan Israel terhadap warga sipil Gaza terus berlanjut, sementara dunia sebagian besar bersikap diam.
Di sisi lain, Kurtulmus menilai Turkiye telah memasuki fase baru dalam kebijakan luar negeri, di mana negara tersebut menjadi pihak yang diperhitungkan oleh kawan maupun lawan.
“Turkiye memasuki periode baru, di mana negara sahabat merasa bangga, musuh merasa segan, dan para pesaing berpikir ulang untuk berhadapan,” katanya.
Ia menegaskan diplomasi tidak semata-mata aktivitas birokrasi, melainkan kerja multidimensi yang melibatkan hubungan antarbangsa dan antarmasyarakat. Kurtulmus menyebut kekuatan utama Turkiye tidak hanya terletak pada aspek militer dan ekonomi, tetapi juga pada persatuan sosial, nilai budaya, serta hubungan historis dengan berbagai kawasan.
Dalam konteks Gaza, Kurtulmus menilai Turkiye saat ini menjadi negara terdepan dalam diplomasi internasional. Ia mengatakan sejak awal serangan terhadap Gaza, para pemimpin Turkiye secara konsisten mengangkat isu tersebut di setiap forum internasional.
“Di mana pun kami berada, dalam forum apa pun, kami menjadikan Gaza sebagai agenda utama. Itu adalah kewajiban kemanusiaan,” ujarnya.
Kurtulmus juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun masa depan diplomasi Turkiye. Ia menyebut pendidikan, pelatihan, dan forum seperti Ankara Diplomat Academy Camp merupakan bagian dari upaya membentuk sumber daya manusia yang kuat dan visioner.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
