ISTANBUL
Jika Anda warga Amerika Serikat, Presiden mungkin akan mengatakan bahwa tarif adalah jalan menuju kemakmuran. Namun bagi banyak negara lain—baik sekutu maupun lawan—kebijakan tersebut lebih terlihat sebagai instrumen tekanan politik.
Tarif dikenakan untuk berbagai isu: perdagangan dengan Iran, kerja sama energi dengan Rusia, hingga persoalan keamanan seperti penyelundupan fentanyl.
Bahkan gagasan ekspansi geopolitik pun disebut-sebut tak lepas dari ancaman tarif. Pertanyaannya, jika tarif benar-benar merupakan resep mujarab menuju kemakmuran, mengapa Amerika Serikat tidak sejak lama menutup ekonominya sebagai strategi pembangunan jangka panjang?
Perubahan struktur ekonomi
Selama beberapa dekade terakhir, ekonomi Amerika mengalami pergeseran struktural besar. Pekerjaan manufaktur secara bertahap digantikan oleh sektor jasa dan teknologi bernilai tambah tinggi.
Produksi berbiaya rendah dialihkan ke negara-negara dengan upah lebih kompetitif seperti China dan India.
Model ini dinilai menguntungkan perusahaan-perusahaan Amerika: desain dan inovasi dilakukan di dalam negeri, sementara produksi dilakukan di luar negeri untuk menjaga harga tetap kompetitif.
Saat ini, manufaktur hanya menyumbang sekitar 10 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) AS, jauh menurun dibanding kisaran 21–25 persen pada pertengahan abad ke-20.
Sebaliknya, sektor jasa kini mencakup sekitar 80 persen PDB dan menyerap mayoritas tenaga kerja.
Amerika Serikat juga tetap menjadi salah satu eksportir jasa terbesar di dunia. Dengan demikian, kemunduran manufaktur tidak dapat dilepaskan dari ekspansi sektor jasa yang jauh lebih dominan dalam struktur ekonomi modern.
Logika defisit perdagangan
Defisit perdagangan barang Amerika Serikat kerap menjadi sorotan. Meski mencatat surplus dalam perdagangan jasa, neraca barang menunjukkan defisit signifikan.
Namun, kondisi ini mencerminkan realitas struktural ekonomi global.
Pertama, warga Amerika—yang menguasai porsi besar kekayaan global—memiliki daya beli tinggi dan cenderung menjadi konsumen utama.
Pertumbuhan ekonomi yang kuat selama beberapa dekade meningkatkan permintaan terhadap barang impor.
Kedua, status dolar AS sebagai mata uang cadangan global menciptakan permintaan tinggi terhadap dolar, yang pada gilirannya membuat ekspor Amerika relatif mahal dan impor lebih terjangkau.
Ketiga, meskipun unggul dalam inovasi teknologi tinggi, Amerika tetap bergantung pada impor bahan baku dan komponen antara untuk memproduksi barang bernilai tambah tinggi.
Dalam konteks ini, membalikkan struktur ekonomi global melalui kebijakan tarif dalam satu masa jabatan presiden dinilai sulit, bahkan berpotensi merugikan Amerika sendiri.
Dampak terhadap mitra dagang
Ancaman dan penerapan tarif telah mendorong sejumlah mitra dagang utama Amerika untuk mencari alternatif.
Kanada mempererat hubungan dengan China, Uni Eropa memperdalam kerja sama dengan India, sementara blok-blok perdagangan regional seperti RCEP dan CPTPP semakin menarik minat negara-negara yang ingin mengurangi ketergantungan pada Washington.
Perubahan dinamika ini bahkan memunculkan wacana di sejumlah negara Barat tentang perlunya koordinasi strategi ekonomi menghadapi kekuatan besar, termasuk Amerika Serikat.
Tarif, dalam pandangan ini, tidak banyak menciptakan lapangan kerja baru.
Sebaliknya, kebijakan tersebut dinilai memicu pergeseran rantai pasok global menjauh dari Amerika, mengikis reputasi sebagai mitra dagang yang dapat diandalkan, serta memperburuk tekanan biaya hidup. Data terbaru menunjukkan penciptaan lapangan kerja pada 2025 menjadi yang paling lambat sejak pandemi.
Tatanan global yang rapuh
Penggunaan tarif sebagai instrumen politik juga dinilai berisiko terhadap stabilitas tatanan global yang sudah rapuh akibat konflik di berbagai kawasan.
Di tengah ketegangan geopolitik, integrasi ekonomi seharusnya menjadi jembatan kerja sama. Namun, jika kebijakan perdagangan berubah menjadi alat konfrontasi, dampaknya bisa meluas melampaui isu ekonomi semata.
Dalam perspektif ini, pertanyaan besarnya bukan sekadar apakah tarif dapat meningkatkan kesejahteraan domestik, tetapi apakah pendekatan tersebut justru melemahkan posisi Amerika dalam sistem ekonomi global yang saling terhubung.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
