Türkİye, Dunia

Melu Turkiye Fidan: Stabilitas Iran dan Kawasan sangat krusial bagi dunia

Pemerintah Turkiye mengingatkan bahwa gangguan pasokan energi dari Iran dan kawasan Teluk dapat mengguncang pasar global

Gökhan Çeliker, Muhammet Tarhan, Sümeyye Dilara Dinçer, Muhammad Abdullah Azzama  | 03.03.2026 - Update : 03.03.2026
Melu Turkiye Fidan: Stabilitas Iran dan Kawasan sangat krusial bagi dunia

ANKARA

Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan menegaskan pemerintahnya terus mengintensifkan upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di kawasan menyusul meningkatnya serangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, seraya memperingatkan bahwa eskalasi konflik dapat mengancam stabilitas regional dan global.

Dalam pertemuan buka puasa bersama perwakilan media di Ankara, Selasa (3/3), Fidan menyatakan bahwa menjaga stabilitas di Iran dan kawasan secara umum merupakan hal yang krusial.

“Kami berupaya keras untuk memastikan ketenangan kembali terwujud dan lingkungan perdamaian dapat dibangun kembali. Kami terus menyampaikan di setiap kesempatan bahwa serangan timbal balik harus segera dihentikan dan proses diplomasi harus dimulai kembali,” ujarnya.

Fidan mengatakan perkembangan terbaru berpotensi membahayakan masa depan kawasan sekaligus stabilitas global.

Ia menyebut serangan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan Iran pada tahap awal belum memicu pergerakan signifikan dari kelompok proksi Iran di kawasan, meski terdapat indikasi aktivitas tertentu di pihak Hizbullah.

Menurut dia, hingga saat ini belum terlihat adanya gejolak besar di dalam negeri Iran yang dapat mengarah pada perubahan rezim.

Namun, skenario terburuk yang harus diantisipasi adalah konflik yang terus meningkat dan menyeret seluruh kawasan ke dalam ketidakstabilan yang lebih luas.

Fidan juga menyoroti dampak konflik terhadap sektor energi. Ia memperingatkan bahwa terhentinya aliran gas alam dari Iran atau gangguan serius terhadap impor energi dari negara-negara Teluk dapat menimbulkan risiko besar bagi keamanan pasokan energi global.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa jika Iran secara langsung menargetkan pangkalan Amerika Serikat di negara-negara Arab, situasi tersebut dapat berkembang menjadi krisis keamanan regional yang lebih besar. Penutupan Selat Hormuz, lanjutnya, juga berpotensi memicu gejolak serius di pasar energi dan keuangan global.

“Kami mengkaji secara terpisah dimensi militer, keamanan, politik, ekonomi, dan energi dari persoalan ini. Berbagai skenario sudah kami siapkan dan langkah-langkah yang mungkin diambil terus kami bahas,” katanya.

Terkait arah konflik, Fidan menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menginginkan ancaman dari Iran dihapuskan sepenuhnya, tidak hanya dari sisi kemampuan militer tetapi juga hingga menyasar rezimnya. Ia menyebut terdapat target perubahan rezim terhadap Iran.

Fidan mengungkapkan bahwa Turkiye sebelumnya telah berupaya menunda pecahnya perang melalui berbagai inisiatif diplomatik dan solusi kreatif. Namun, konflik tetap terjadi di tengah proses negosiasi yang sedang berlangsung, yang oleh pihak Iran dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap diplomasi.

Ia juga mengatakan Iran berupaya meningkatkan tekanan dengan menyerang target energi di kawasan Teluk. Namun, menurut Fidan, respons yang diharapkan Teheran dari negara-negara tersebut untuk menekan Amerika Serikat menghentikan perang tampaknya tidak akan terwujud.

Di sisi lain, Fidan menegaskan bahwa Turkiye akan selalu melindungi diri dari segala kemungkinan ancaman. “Terlepas dari isu Iran, Turkiye memiliki kemauan dan kemampuan untuk melindungi dirinya,” ujarnya.

Mengenai upaya internasional meredakan ketegangan, Fidan menyebut dirinya telah berkomunikasi dengan sejumlah pejabat Eropa, termasuk Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan Kaja Kallas, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, serta pejabat dari Prancis dan Jerman. Ia juga menyatakan Turkiye berkoordinasi dengan negara-negara Teluk, Oman, dan Amerika Serikat.

Terkait kondisi warga negara Turkiye di kawasan terdampak, Fidan memastikan belum ada laporan korban jiwa maupun luka. Ia menyebut sekitar 20 ribu warga Turkiye, termasuk pemegang kewarganegaraan ganda, saat ini berada di Iran.

Menurut dia, tiga pintu perbatasan antara Turkiye dan Iran tetap beroperasi dan memungkinkan warga Turkiye maupun warga negara ketiga untuk kembali tanpa hambatan. Pusat Panggilan Konsuler Kementerian Luar Negeri Turkiye juga beroperasi 24 jam dan telah menerima sekitar 1.500 permintaan informasi dari warga di berbagai negara kawasan.

Mengenai kemungkinan gelombang migrasi dari Iran, Fidan mengatakan pemerintah telah melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga terkait sejak konflik pada Juni lalu. Namun, ia menambahkan bahwa saat ini Iran tidak mengizinkan warganya keluar melalui perbatasan, sehingga belum ada arus masuk dari Iran ke Turkiye.

Fidan juga mengakui bahwa konflik di kawasan dapat berdampak negatif terhadap situasi di Gaza. Ia menyebut sejumlah negara seperti Arab Saudi, Qatar, dan Yordania kini menghadapi prioritas mendesak lain akibat ketegangan regional.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın