Maria Elisa Hospita
20 Desember 2017•Update: 21 Desember 2017
COX’S BAZAR, Bangladesh
Perdana Menteri Turki Binali Yildirim tiba di Cox's Bazar pada Rabu pagi untuk kunjungan kenegaraan selama dua hari.
Yildirim mengunjungi kamp Mainnerghona, sekitar 40 kilometer (25 mil) dari Cox's Bazar, yang menampung ribuan pengungsi Rohingya.
Dia juga meninjau perkembangan pembangunan rumah sakit darurat di kamp Balukhali.
Selama kunjungan tersebut, Yildirim didampingi oleh wakil PM Bekir Bozdag, Menteri Kebijakan Keluarga dan Sosial Fatma Betul Sayan Kaya, dan pejabat Turki lainnya.
Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hassan Mahmud Ali juga mendampingi delegasi Turki tersebut.
Selain itu, Yildirim juga menghadiri upacara penyerahan donasi berupa dua ambulans dan kendaraan staf yang akan dikirimkan ke Rumah Sakit Pusat Cox's Bazaar yang dikelola oleh Badan Koordinasi dan Kerja Sama Turki (TIKA).
Selain TIKA, Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat Turki (AFAD), Bulan Sabit Merah Turki, dan Direktorat Urusan Agama Turki juga telah melakukan pekerjaan bantuan kemanusiaan di wilayah tersebut.
Menurut PBB, sejak 25 Agustus, lebih dari 656.000 warga Rohingya mengungsi dari Rakhine ke Bangladesh. Mereka melarikan diri dari operasi keamanan yang membunuh, menjarah rumah, dan membakar desa-desa mereka.
PBB menyebut Rohingya sebagai kaum paling teraniaya di dunia, yang telah menderita karena sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012.
Menurut Dokter Lintas Batas (MSF), sedikitnya 9.000 Rohingya dibunuh di Rakhine, Myanmar, sejak 25 Agustus - 24 September.
Dalam laporan yang dirilis pada 12 Desember, MSF mengatakan 71,7 persen kematian atau 6.700 jiwa disebabkan karena tindak kekerasan. 730 di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah lima tahun.
PBB mencatat adanya perkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak-anak — pemukulan brutal dan penghilangan paksa oleh petugas keamanan. Penyidik PBB menyebut pelanggaran tersebut sebagai kejahatan kemanusiaan.