Servet Gunarigok
29 Desember 2021•Update: 30 Desember 2021
WASHINGTON
Amerika Serikat (AS) pada Selasa mengutuk serangan militer Myanmar pada 24 Desember di Negara Bagian Kayah, yang menewaskan sedikitnya 35 orang.
Korban tewas termasuk wanita dan anak-anak dan dua anggota staf organisasi kemanusiaan internasional Save the Children.
"Kami khawatir dengan kebrutalan rezim militer di Burma, termasuk yang terbaru di Negara Bagian Kayah dan Karen," kata Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dalam sebuah pernyataan.
"Penyerangan orang tak bersalah dan pekerja kemanusiaan tidak dapat diterima, dan kekejaman militer yang meluas terhadap rakyat Burma menekankan urgensinya meminta pertanggungjawaban dari anggotanya," kata menlu AS itu.
Blinken mendesak masyarakat internasional untuk berbuat lebih banyak untuk memajukan tujuan itu dan mencegah terulangnya kekejaman di Myanmar, termasuk dengan mengakhiri penjualan senjata dan teknologi penggunaan ganda kepada militer.
Militer Myanmarmelancarkan kudeta militer 1 Februari dan memenjarakan kepemimpinan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang dipimpin oleh peraih Nobel Aung San Suu Kyi, yang awal bulan ini dijatuhi hukuman empat tahun penjara.
Lebih dari 1.000 orang telah tewas sementara lebih dari 5.400 lainnya telah ditangkap oleh pasukan junta, banyak dari mereka telah dibebaskan.