Regional

Junta Myanmar bunuh 3 jurnalis sejak Desember

Salah satu jurnalis digunakan sebagai tameng manusia oleh tentara Myanmar, kata Federasi Jurnalis Internasional

Riyaz ul Khaliq   | 22.01.2022
Junta Myanmar bunuh 3 jurnalis sejak Desember


ISTANBUL

Rezim militer Myanmar telah membunuh sedikitnya tiga wartawan sejak Desember, kata sebuah badan media internasional pada Jumat.

Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) mengidentifikasi nama jurnalis yang terbunuh adalah Sai Win Aung, Pu Tuidim dan Soe Niang.

"IFJ mengutuk keras kekerasan yang terus berlanjut terhadap pekerja media di Myanmar dan menyerukan mereka yang bertanggung jawab untuk segera diadili," kata kelompok itu dalam sebuah laporan.

Sai Win Aung, editor Federal News Journal, tewas dalam serangan oleh pasukan militer bulan lalu saat melaporkan pengungsi di kotapraja Myawaddy, negara bagian Kayin, dekat perbatasan dengan Thailand.

“Sai Win Aung, juga dikenal sebagai A Sai K, ditembak mati oleh angkatan bersenjata Myanmar, Tatmadaw, dalam serangan artileri terhadap anggota kelompok perlawanan Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF),” kata laporan itu.

Pu Tuidim, pendiri kolektif media Burma News International (BNI) dan outlet berita Chin Khonumthung Media Group, “diculik, bersama setidaknya sembilan orang lainnya, di Kotapraja Matupi, Negara Bagian Chin Myanmar oleh anggota Batalyon Infanteri 140 militer pada 6 atau 7 Januari,” menurut IFJ.

“Mayat para korban penculikan, termasuk Pu Tuidim, ditemukan pada 9 Januari, dan wartawan ditemukan tewas pada 8 Januari,” kata laporan itu.

Warga itu ditangkap dan digunakan sebagai perisai manusia ketika pasukan junta melewati "rute yang rawan serangan alat peledak buatan (IED)."

“Militer telah bentrok di daerah itu dengan anggota Pasukan Pertahanan Chinland (CDF) anti-pemerintah sejak 6 Januari. Seorang juru bicara CDF mengatakan bahwa begitu militer menavigasi jalan, semua sandera ditembak mati secara sistematis,” ungkap laporan itu.

Jurnalis ketiga adalah fotografer lepas Soe Niang, yang “dibunuh pada 14 Desember setelah empat hari disiksa,” menurut IFJ.

Pembunuhan brutal terhadap jurnalis hanya karena melakukan pekerjaan mereka sebagai anggota media, menunjukkan pembungkaman junta militer terhadap suara-suara kritis dan mengabaikan kebebasan pers, kata IFJ.

Laporan itu mengatakan junta Myanmar telah menangkap lebih dari 100 wartawan, banyak dari mereka masih ditahan, sejak merebut kekuasaan pada 1 Februari tahun lalu dengan menggulingkan pemerintah sipil yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi.

Menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik yang berbasis di Myanmar, junta militer telah membunuh hampir 1.500 orang dan menangkap hampir 11.700 orang selama setahun terakhir.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın