Hayati Nupus
06 September 2019•Update: 07 September 2019
JAYAPURA
Tokoh agama Papua meminta otoritas untuk menarik pasukan keamanan yang secara intensif berjaga di Bumi Cenderawasih selepas demonstrasi menentang rasialisme berujung anarkisme beberapa waktu lalu.
Pegiat Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Papua Pdt. James Wambrau mengatakan penjagaan berlebihan yang terlalu lama justru memperpanjang trauma yang dirasakan warga.
“Kami tidak terbiasa melihat patroli malam dengan baju gelap ada di setiap gang,” ujar James, dalam pertemuan TNI dan Polri dengan tokoh lintas agama di Provinsi Papua, Jumat, di Jayapura.
James mengatakan jangan sampai warga berpikir soal masa lalu yang kelam.
Semua pihak, lanjut James, perlu saling menasehati dan berdoa agar trauma tak terjadi lagi.
“Agar yang ada kita saling mengasihi,” ujar dia.
Selepas demonstrasi menentang rasialisme berujung aksi anarkisme di Jayapura dan sejumlah wilayah lain di Papua dan Papua Barat, polisi menerjunkan pasukan tambahan untuk mengamankan Bumi Cenderawasih.
Kepala Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan saat ini total pasukan TNI-Polri yang bersiaga di Jayapura berjumlah sekitar 6.000 personel.
Ribuan personel itu, lanjut Tito, ditempatkan terutama di sejumlah obyek vital seperti pelabuhan, kantor PLN, kantor DPRD dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Waena.