Hayati Nupus
26 November 2019•Update: 27 November 2019
JAKARTA
Sejumlah pakar pendidikan Islam dunia berkumpul di Jakarta untuk urun rembug soal bentuk ideal Universitas Islam Internasional Indonesia yang tengah dibangun di Depok, Jawa Barat.
Dalam keterangannya Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama mengatakan pertemuan pakar dunia itu bertemakan Seizing the Moment for Inventing Muslim Civilization.
Wakil Presiden Indonesia Ma'ruf Amin, salah satu pembicara, mengatakan pemerintah menginginkan agar UIII dapat menjadi perguruan tinggi internasional berkualitas global.
“Indonesia adalah negara Islam demokratis terbesar di dunia, kita layak menjadi rujukan pengembangan ilmu pengetahuan keislaman yang berkualitas global,” ujar dia.
Masuk ke Indonesia sejak abad ke-8, Islam berkembang pesat dan diterima dengan baik tanpa perang.
Para penyebar Islam menjadikan aktivitas perdagangan dan sosial sebagai sarana untuk membawa misi keagamaan.
Dampaknya, Islam Indonesia berciri moderat yang langka di dunia, sehingga perlu ada pusat pendidikan dan penelitian yang berkualitas.
“Agar keindahan Islam Indonesia dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Selain pusat studi, lembaga ini penting untuk bisa menjadi pusat penyebaran kebudayaan Islam yang modern, toleran, dan berkemajuan,” urai Ma’ruf.
Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Kamruddin Amin mengatakan UIII mengkombinasikan tradisi kesarjanaan Arab sekaligus Barat.
“Kita mempelajari model keduanya untuk mencari bentuk baru yang lebih sesuai dengan Indonesia,” kata dia.
Salah satu pakar dunia itu adalah Prof. James Piscatori dari Australian National University Centre for Arab and Islamic Studies.
Dia mengatakan tantangan dunia Islam saat ini adalah begitu banyak analisis obyektif yang bias oleh budaya bangsa.
“Dalam banyak kasus di dunia, interpretasi berdasarkan latar belakang akan selalu terlibat,” kata Piscatori.
Oleh karena itu, lanjut Piscatori, institusi yang menjadi pusat riset keilmuan dan budaya amat dibutuhkan, demi memecahkan salah satu persoalan pokok dunia Islam.
Pakar dunia lainnya yang turut terlibat adalah Wakil Rektor Universitas Al-Azhar Mesir, Prof Dr Mohamed Abouzaid Alamair, Wakil Rektor Universitas Qurawiyyin, Fez, Maroko Prof. Dr. Mohamed Adiouane dan Prof. Dr. Philip Buckley dari McGill University, Montreal Kanada.
Juga Prof. Dr. Mohammad al- Rougi dari University of Muhammad al-Khamis, Rabat, Maroko, Prof. Abdullah Sahin dari University of Warwick, Inggris, dan Prof. Dr. Moncef ben Abdeljelill dari Sousse University, Tunisia.
Sementara dari Indonesia, turut urun rembug Prof. Dr. Azyumardi Azra, dan Prof. Dr. Quraish Shihab, MA.
UIII mencakup bidang studi agama Islam, ilmu-ilmu sosial, humaniora dan sains teknologi.
Di periode awal, UIII akan membuka program syariah, aqidah, tafsir, hadits, tasawuf, usul fiqh, lughah, dan balaghah.
Juga ilmu-ilmu sosial, teknologi halal, seni, dan musik.