29 Juli 2026•Update: 29 Juli 2026
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa mengatakan tetap akan menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada September mendatang, meski Wali Kota New York Zohran Mamdani menyerukan agar surat perintah penangkapannya dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) ditegakkan.
Dalam wawancara dengan Fox News, pembawa acara menyampaikan kepada Netanyahu bahwa Mamdani sebelumnya mengatakan ia dapat ditangkap apabila datang ke New York, seraya menambahkan bahwa skenario tersebut "tidak akan pernah terjadi."
"Pertama-tama, saya akan pergi ke New York. Saya pasti akan ke sana. Saya akan menyampaikan kebenaran di hadapan pejabat terpilih yang menyebarkan kebencian itu," kata Netanyahu.
Netanyahu menuduh Mamdani memecah belah warga New York dan menjadikan warga Yahudi sebagai sasaran.
"Dia mengadu domba satu kelompok warga New York dengan kelompok lainnya. Dia menghasut mereka melawan warga Yahudi di New York. Maksud saya, apakah kita kembali ke era 1930-an? Apa ini? Begitu banyak kebencian. Begitu banyak kebohongan," ujarnya, merujuk pada penganiayaan terhadap orang Yahudi oleh rezim Nazi menjelang Perang Dunia II.
Di sisi lain, para pengkritik Netanyahu dan Israel telah lama menolak anggapan bahwa kritik terhadap Netanyahu atau Israel sama dengan antisemitisme. Saat berkampanye dalam pemilihan wali kota tahun lalu, Mamdani juga melakukan pendekatan secara luas kepada komunitas Yahudi yang besar di New York.
Pekan lalu, Mamdani menyebut Netanyahu sebagai "penjahat perang" dan mendesak pemerintah Amerika Serikat menegakkan surat perintah penangkapan ICC terhadap Netanyahu jika ia memasuki wilayah Amerika Serikat.
Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Netanyahu "tidak akan ditangkap" selama berada di Amerika Serikat.
ICC pada November 2024 mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza, tempat lebih dari 73.000 orang dilaporkan tewas sejak Israel melancarkan ofensif militernya pada Oktober 2023.
Menyinggung pertemuannya dengan Trump di Gedung Putih pada Selasa, Netanyahu menyebut pertemuan tersebut berlangsung "sangat baik."
"Ini salah satu pertemuan terbaik yang pernah kami lakukan," katanya kepada Fox News.
"Saya selalu tidak ingin mengecewakan para pengkritik yang berusaha mencari celah dalam aliansi kami. Namun, seperti yang mereka lihat hari ini, yang ada justru tembok granit. Kami memiliki komitmen yang sama. Kami tidak ingin rezim fanatik di Teheran memiliki senjata nuklir," tambahnya.