Muhammad Nazarudin Latief
24 Mei 2018•Update: 25 Mei 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali erupsi dengan memuntahkan material vulkanik setinggi 6.000 meter dari puncak, Kamis pukul 02.56 WIB.
Pemerintah meminta masyarakat dan wisatawan mengosongkan kawasan dengan radius tiga kilometer dari puncak.
Kepala Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kasbani mengatakan erupsi dini hari tadi merupakan letusan terbesar sejak gunung ini kembali aktif.
"Suara gemuruh terdengar dari semua Pos Pengamatan Gunung Api Merapi di sekeliling gunung,” ujar Kasbani.
Menurut Kasbani, secara visual, Gunung Merapi tertutup kabut. Asap vulkanik terlihat berwarna putih bertekanan lemah dan intensitas tebal bertiup ke arah selatan dan barat laut. Beberapa wilayah di bagian barat gunung ini yaitu Kabupaten Magelang dilaporkan mengalami hujan pasir dan abu.
Gunung ini juga dilaporkan mengalami dua kali gempa Letusan, 3 kali gempa guguran, 6 kali gempa hibrid, 1 kali gempa vulkanik Dangkal, 1 kali gempa embusan, 2 kali gempa Tektonik Jauh dan 1 kali gempa tektonik lokal.
Kasbani merekomendasikan pada pemerintah daerah untuk mensosialisasikan kondisi Gunung Merapi saat ini kepada masyarakat sebagai bagian dari langkah mitigasi bencana geologi.
"Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk. Masyarakat yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III mohon meningkatkan kewaspadaan,” ujar Kasbani.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan (BPPTKG) DIY Hanik Humaida mengatakan dilaporkan terlihat pijar berwarna merah di belakang awan mendung yang teramati petugas. Pijar tersebut bukan lava, namun berasal dari gas vulkanik di bawah.
“Ini gas dari magma tapi baru akumulasi gas. Belum magma yang keluar," ujarnya.
Gas dari magma tersebut menandakan Gunung Merapi mempunyai lava yang relatif encer. Pijar ini menurut Hanik bisa merupakan tahapan menuju letusan magmatik.
“Tapi letusan magmatik belum terjadi saat ini,” ujar dia.
Status gunung tersebut, menurut Hanik masih dalam kondisi waspada (level II). Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan disarankan untuk menggunakan masker.