Chandni
14 Desember 2017•Update: 15 Desember 2017
Nilay Kar Onum dan Satuk Bugra Kutlugun
ISTANBUL
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Rabu mengatakan pertemuan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Istanbul menunjukkan dunia bahwa Yerusalem tidak "diabaikan".
"Saya percaya dengan adanya pertemuan bersejarah ini, kami menunjukkan kepada dunia serta pemangku kebijakan bahwa Yerusalem belum diabaikan," kata Erdogan kepada media yang hadir.
Kepada wartawan di Istanbul, Erdogan sekali lagi mengatakan Yerusalem merupakan "garis merah" bagi umat Muslim dan langkah Presidenv Amerika Serikat (AS) Donald Trump itu "tidak ada artinya".
Erdogan juga mengatakan sudah tidak mungkin Amerika bertindak sebagai penengah dalam proses perdamaian Israel dan Palestina.
"Proses ini sudah berakhir," tambah dia.
Dalam pidatonya, Erdogan menghimbau agar AS membatalkan "keputusan salah" mereka mengenai Yerusalem.
"Kami berharap pihak berwenang Amerika menarik keputusan salah ini secepatanya," kata Erdogan. "Nasib Yerusalem tidak bisa jatuh ke tangan negara yang bergerak maju dengan membunuh anak-anak, warga sipil dan perempuan."
Pekan lalu, Trump mengumumkan keputusannya -- meski menerima tentangan dari Timur Tengah -- untuk secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Pengumuman ini memantik kutukan dari seluruh dunia, termasuk Turki, Uni Eropa, dan PBB.
Yerusalem tetap menjadi pusat konflik Israel-Palestina, dengan Palestina yang mengharapkan Yerusalem Timur -- saat ini masih diduduki Israel -- menjadi ibu kota negaranya kelak.
Selama masa kampaye tahun lalu, Trump berulang kali menjanjikan relokasi kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.
OKI dibentuk semasa konferensi bersejarah di Rabat, Maroko pada 1969 menyusul serangan kebakaran di Masjid al-Aqsa di Yerusalem.
Al-Aqsa dibakar oleh seorang warga Australia Michael Denis Rohan pada 21 Agustus 1969. Sebagian dari masjid dan mimbar berusia 1.000 tahun hancur total serta beberapa titik-titik bersejarah lainnya.
Rohan merupakan anggota sekte AS bernama "The Church of God" yang percaya membakar al-Aqsa akan mempercepat kedatangan Yesus.
Dia kemudian ditemukan mengalami gangguan mental dan meninggal pada 1995.