Chandni
22 November 2017•Update: 22 November 2017
Barry Eitel
SAN FRANCISCO
Uber pada Selasa mengumumkan sistem mereka diretas pada akhir 2016 lalu dan berdampak pada 57 juta pengguna di seluruh dunia.
Oktober tahun lalu, peretas menyerang sistem Uber dan mengakses nama, nomor telepon, dan alamat surel jutaan pengguna. Mereka juga mencuri informasi mengenai nomor SIM 600.000 pengemudi Uber di AS. Penyerang tidak mengakses informasi kartu kredit pengguna, kata Uber.
Penyusupan itu tidak diberitakan ke pengguna dan pengemudi Uber serta pihak berwenang kala itu. Bahkan, pejabat Uber dilaporkan membayar USD 100.000 kepada penyerang agar mereka menghapus data curian itu, menurut pernyataan dari CEO Uber Dara Khosrowshahi kepada Bloomberg.
Penguburan kasus itu menjadi skandal terbaru yang dihadapi Uber dan Khosrowshahi yang baru bergabung beberapa bulan lalu. Sebagai tambahan, perusahaan aplikasi transportasi itu juga masih dihantui skandal-skandal lamanya.
Pekan ini, kepala bagian keamanan Joe Sullivan yang masuk pada 2015, dipecat setelah Khosrowshahi mendapatkan informasi Sullivan yang membayar para pencuri informasi itu.
Dalam pernyataan yang dirilis Uber, Khosrowshahi minta maaf atas kejadian tersebut. Dia mengatakan perusahaannya menghubungi para pengemudi yang terdampak oleh serangan siber itu dan menawarkan bantuan.
"Ini tidak seharusnya terjadi dan saya tidak akan mentolerirnya," tulis Khosrowshahi. "Saya tidak bisa mengulang kembali apa yang sudah terjadi, namun sekarang saya membuat komitmen atas nama semua pegawai Uber bahwa kami akan belajar dari kesalahan. Kami sedang mengubah cara kami melakukan bisnis dan akan selalu mengedepankan integritas agar kembali merebut kepercayaan pengguna."
Khosrowshahi berjanji akan bekerja dengan pemangku kebijakan untuk terus memonitor situasi ini.