Muhammad Nazarudin Latief
06 Maret 2019•Update: 06 Maret 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia berhasil mencapai indeks manajer pembelian manufaktur (Purchasing Managers Index/PMI) pada Februari mencapai 50,1 dari sebelumnya 49,9 yang menandakan ada kegiatan ekspansif pada sektor tersebut.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan angka pertumbuhan ini membuatnya optimistis ditunjang dengan investasi juga terus tumbuh.
“Manufaktur kita sedang ekspansif, “ ujar dia dalam siaran persnya, Rabu.
Indeks manufaktur yang dirilis setiap bulan tersebut memberikan gambaran tentang kinerja industri pengolahan pada suatu negara, yang menggambarkan jumlah produksi, permintaan baru, ketenagakerjaan, inventori, dan waktu pengiriman.
Data indeks di atas 50 menunjukkan peningkatan di semua variabel survei.
Survei PMI manufaktur menggunakan data respons para manajer di bidang pembelian yang berasal dari 300 perusahaan manufaktur berbagai sektor, di antaranya industri logam dasar, kimia dan plastik, tekstil dan pakaian, serta makanan dan minuman.
PMI manufaktur Indonesia pada Januari 2019 sempat mengalami sedikit penurunan dibanding Desember 2018.
Menurut Menteri Airlangga aktivitas industri manufaktur mesti dilihat dalam jangka waktu lebih panjang. Stagnasi aktivitas dalam hitungan sebulan tak serta merta menjadi kesimpulan.
Tahun ini pemerintah memproyeksi pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,4 persen, ujar Menteri Airlangga.
Sub sektor yang diperkirakan tumbuh tinggi, antara lain industri makanan dan minuman, industri permesinan, industri tekstil dan pakaian jadi, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki, serta industri barang logam, komputer dan barang elektronika.
PMI Indonesia Februari lalu terlihat lebih baik dibanding kawasan Asia Tenggara yang turun ke posisi 49,6 dari bulan sebelumnya 49,7 atau terendah sejak Juli 2017.
Di tingkat global, indeks manufaktur berada pada level 50,6 atau terendah sejak Juni 2016. Perlambatan ini diduga menggambarkan produksi manufaktur dunia yang stagnan di tengah perang dagang China versus Amerika Serikat.
“Indonesia mencatat ekspansi ketenagakerjaan paling kuat, sementara tiga dari tujuh negara peserta survei melaporkan penurunan tenaga kerja,” ujar Ekonom IHS Markit David Owen dalam laporan surveinya.
Para responden cukup antusias terhadap perkiraan bisnis tahun mendatang. Responden berharap, aktivitas manufaktur akan membaik seiring dengan variasi produk yang lebih banyak, investasi kapital dan ekspansi bisnis yang terencana.