Muhammad Nazarudin Latief
28 November 2017•Update: 28 November 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik (Inaplas) merekomendasikan pada pemerintah agar meminta Pertamina segera membangun fasilitas Grass Root Refinery (GRR) yang ketiga. Selain itu, mempercepat realiasi pendirian tiga pabrik olefin dengan kapasitas 1 juta ton etilena dan turunannya.
Hal ini diungkapkan oleh Wakil Ketua Inaplas Suhat Miyarso pada diskusi Kamar Dagang dan Industri “Membangun Industri Berkelanjutan” di Jakarta, Senin. Tujuannya, kata Suhat, untuk memperkuat petrokimia hulu.
“Industri (petrokimia) tergantung dari ketersediaan Naptha, LPG, Condensate, Nature gas dan coal,” ujar dia.
Industri ini, menurut Suhat, baru mampu memproduksi produk petrokimia sebesar 800.000 ton per tahun. Padahal setiap tahun permintaan naik 5-6 persen, mengikuti pertumbuhan industri hilir.
Industri hilir pemakai produk petrokimia adalah industri makanan dan minuman, mereka memakainya untuk pembuatan kemasan.
Di dalam negeri, industri ini kata Suhat masih menghadapi tantangan berat. Ini karena naphtha masih impor hingga 2,5 juta ton per tahun. Demikian juga dengan LPG.
Tapi anehnya, gas alam malah diekspor, padahal untuk mengolah batubara menjadi methgalon membutuhkan investasi yang besar.
Di sisi lain, diversifikasi produk ini minim, sedang riset dan pengembangan di dalam negeri masih lemah.
Suhat memprediksi, Indonesia masih akan mengimpor minyak mentah, naptha dan pygas hingga 2025. Selain itu masih kekurangan suplay propylene, polypropylene, para-xylene and benzene.
Karena itu, selain rekomendasi untuk membangun fasilitas gasifikasi, pemerintah juga harus mendorong adanya perkebunan tanaman aromatik dan mendapatkan kontrak jangka panjang untuk naptha.
“Harus ada juga pengolahan gas untuk jadi methanol,” kata dia.