İqbal Musyaffa
06 Maret 2019•Update: 06 Maret 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) mengatakan masih ada ruang untuk penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengatakan saat ini pasar sedang menunggu hasil negosiasi pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China yang sudah memberikan sinyal positif.
“Dari sisi sentimen global sudah bagus karena FOMC the Fed berikan sinyal dovish,” ujar Nanang saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian di Jakarta, Selasa.
Akan tetapi, Nanang mengatakan Indonesia masih memiliki kebutuhan impor yang tinggi, sehingga suplai valas yang masuk melalui capital inflow terkadang dipakai untuk memenuhi kebutuhan valas untuk impor.
Nanang mengungkapkan secara year to date modal asing yang masuk sudah mencapai Rp68 triliun melalui Surat Berharga Negara (SBN) dan saham.
Dia menambahkan saat ini nilai tukar rupiah sudah sangat stabil di kisaran Rp14.100 karena tersedianya suplai valas yang mencukup, sehingga tidak terlalu fluktuatif seperti tahun 2018.
Nanang menjelaskan stabilitas ini juga dibantu dengan pasar DNDF dan banyak yang sudah melakukan hedging, sehingga pelaku pasar tidak terburu-buru membeli valas di pasar spot.
Dia juga mengatakan rupiah saat ini justru memiliki kecenderungan terus menguat karena faktor tekanan pada 2018 lalu saat ini sudah mulai mereda, seperti masalah sengketa dagang dan kenaikan suku bunga the Fed.
Nanang mengatakan sentimen global yang masih terjadi saat ini adalah Brexit yang belum selesai dan beberapa hal terkait geopolitik tetapi risikonya tidak sebesar dulu.
“Jadi hemat saya, kecenderungannya masih ada ruang untuk rupiah menguat, sebab rupiah masih undervalue,” tutur Nanang.