Hayati Nupus
12 Januari 2018•Update: 12 Januari 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Pemerintah berupaya membangun kekuatan industri strategis pertahanan dalam negeri.
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan upaya itu dilakukan dengan dua cara, pertama menggunakan produk pertahanan hasil produksi perusahaan BUMN seperti PT PAL, Pindad, dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk TNI.
“Kedua, kerja sama riset dan produksi antara perusahaan pertahanan Indonesia dengan perusahaan pertahanan luar negeri,” kata Hadi pada Kamis sore di Jakarta
Beberapa waktu lalu misalnya, ujar Hadi, TNI memperoleh enam unit persawat baru hasil produksi PTDI.
Keenamnya adalah tiga unit helikopter Serang AS555AP Fennec untuk TNI Angkatan Darat, satu unit Pesawat Udara CN 235-220 Maritime Patrol Aircraft (MPA), dan dua unit helikopter AS565 MBe Panther Anti Kapal Selam (AKS) untuk TNI Angkatan Laut.
“Semua dilengkapi sistem yang baik dan memiliki kemampuan cukup untuk patroli maritim,” kata Hadi.
Serah terima ini, kata Hadi, untuk memenuhi Rencana Strategis kedua periode 2014-2019.
Selain itu, ujar Hadi, Kementerian Pertahanan juga telah memesan 26 Alutsista lain kepada PTDI, yaitu sembilan pesawat Cassa NC-212i, tujuh unit helikopter Caracal, enam unit helikopter Serang, dan empat unit pesawat AKS Peter.
Upaya memajukan industri pertahanan dalam negeri ini, ujar Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, sesuai amanat presiden agar semua kementerian berupaya menarik investor asing untuk menanamkan modalnya ke Indonesia.
“Semua kementerian harus menarik investor asing untuk masuk ke sini,” tegas Menteri Ryamizard.
Dengan begitu, kata dia, industri pertahanan mampu menopang perekonomian bangsa.
Pertumbuhan ekonomi negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Prancis, dan Inggris, sebut Menteri Ryamizard, ditopang oleh industri pertahanan.