Ekonomi

BI pertahankan suku bunga acuan 3,5 persen

BI memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2021 diperkirakan menjadi 3,5 - 4,3 persen lebih rendah proyeksi sebelumnya 4,1 - 5,1 persen

Muhammad Nazarudin Latief   | 22.07.2021
BI pertahankan suku bunga acuan 3,5 persen Warga mengantre untuk menukarkan uang pecahan kecil di mobil kas keliling di Museum Bank Indonesia, Jakarta, Indonesia pada 8 Juni 2018. Pemerintah Indonesia membuka layanan penukaran uang pecahan kecil guna kebutuhan Ramadan dan hari raya Idul Fitri. ( Eko Siswono Toyudho - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA

Bank Indonesia pada Kamis, memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50 persen di tengah ketidakpastian global akibat pandemi COvid-19 dan nilai inflasi yang diperikan akan tetep rendah.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan suku bunga Deposit Facility juga dipertahankan sebesar 2,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25 persen.

“BI akan terus mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung upaya perbaikan ekonomi lebih lanjut,” ujar dia dalam konferensi pers, Kamis.

Revisi pertumbuhan ekonomi

BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi domestik diprakirakan lebih rendah dari sebelumnya, setelah penyebaran varian delta virus korona.

Pada triwulan ketiga tahun ini, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan lebih rendah karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk mengatasi peningkatan penyebaran varian delta Covid-19.

Penurunan pertumbuhan terjadi pada konsumsi rumah tangga karena terbatasnya mobilitas, meskipun ada peningkatan stimulus bantuan sosial oleh pemerintah dan kuatnya kinerja ekspor.

Ekonomi diperkirakan akan mulai membaik pada triwulan keempat, ujar BI.

Hal ini didorong oleh peningkatan mobilitas sejalan dengan akselerasi vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan.

Dengan demikian, kata BI, pertumbuhan ekonomi pada 2021 diperkirakan menjadi 3,5 - 4,3 persen dari proyeksi sebelumnya 4,1 - 5,1 persen.

“Namun perekonomian global diprakirakan tumbuh lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya," ujar Perry.

"Amerika dan Eropa akan naik seiring percepatan vaksinasi serta berlanjutnya stimulus fiskal dan moneter. Demikian juga ekonomi China tetap tinggi,” lanjut dia.

ASEAN dan India, ujar Perry diperkirakan akan tumbuh lebih rendah seiring dengan penerapan pembatasan mobilitas.



Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın