Iqbal Musyaffa
13 Oktober 2020•Update: 14 Oktober 2020
JAKARTA
Bank Indonesia mengatakan nilai tukar rupiah yang diperdagangkan pada kisaran Rp14.740 per dolar AS masih undervalue dan akan terus menguat yang didukung oleh defisit transaksi berjalan di bawah 1,5 persen dan inflasi di bawah batas bawah 2 persen.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan daya tarik aset keuangan domestik juga masih tinggi serta perbedaan imbal hasil SBN 10 tahun dengan obligasi pemerintah AS yang sebesar 6,9 persen serta premi risiko credit default swaps yang turun berpotensi mendorong penguatan nilai tukar rupiah.
“Faktor-faktor tersebut akan mendorong penguatan rupiah seiring dengan kebijakan BI yang memperkuat stabilitas nilai tukar sesuai fundamentalnya dan mekanisme pasar,” imbuh Perry dalam konferensi pers virtual, Selasa.
Perry menjelaskan pada September 2020 nilai tukar rupiah tercatat melemah 2,13 persen point to point (ptp) dipengaruhi tingginya ketidakpastian pasar keuangan, baik karena faktor global maupun faktor domestik.
Kemudian nilai tukar rupiah per 12 Oktober kembali menguat 1,22 persen (ptp) atau 0,34 persen secara rerata dibandingkan dengan level September 2020.
“Penguatan rupiah pada Oktober 2020 didorong kembali masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik yang dipengaruhi meningkatnya likuiditas global dan tetap terjaganya keyakinan investor terhadap prospek perekonomian domestik,” urai Perry.
Dia menambahkan dengan perkembangan ini, rupiah sampai dengan 12 Oktober 2020 mencatat depresiasi sekitar 5,56 persen dibandingkan dengan level akhir 2019.