Iqbal Musyaffa
19 Mei 2020•Update: 20 Mei 2020
Jakarta
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18-19 Mei 2020 memutuskan mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 4,50 persen, suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 5,25 persen.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan bahwa keputusan diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global akibat pandemi Covid-19.
“[Suku bunga dipertahankan] meskipun Bank Indonesia melihat adanya ruang penurunan suku bunga seiring rendahnya tekanan inflasi dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama pada 2020,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Selasa.
Perry menjelaskan kondisi nilai tukar rupiah saat ini menguat seiring dengan meredanya ketidakpastian pasar keuangan global dan terjaganya kepercayaan terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Dia menjelaskan setelah menguat pada April 2020, rupiah pada Mei 2020 terus mengalami apresiasi.
“Sampai 18 Mei 2020, rupiah menguat 5,1 persen secara rerata dan 0,17 persen secara point to point dibandingkan dengan level akhir April 2020,” jelas Perry.
Namun demikian, Perry mengatakan rupiah masih mencatat depresiasi sekitar 6,52 persen dibandingkan level akhir 2019 akibat depresiasi cukup dalam pada Maret 2020.
Penguatan rupiah didorong oleh aliran masuk modal asing yang kembali membaik mulai April 2020, didorong meredanya ketidakpastian pasar keuangan global serta tingginya daya saing aset keuangan domestik.
Rupiah juga menguat karena prospek perekonomian Indonesia masih tetap baik.
Dia menjelaskan investasi portofolio sejak April 2020 hingga 14 Mei 2020 mencatat net 'inflow' sebesar USD4,1 miliar setelah pada kuartal pertama 2020 mencatat net 'outflow' USD5,7 miliar.
Perry menambahkan penguatan nilai tukar rupiah juga didorong oleh besarnya pasokan valas dari pelaku domestik.
“Bank Indonesia memandang level nilai tukar rupiah dewasa ini secara fundamental tercatat undervalued sehingga berpotensi terus menguat dan mendukung pemulihan ekonomi,” jelas dia.
Sementara itu, BI terus mengoptimalkan operasi moneter untuk memastikan bekerjanya mekanisme pasar dan ketersediaan likuiditas baik di pasar uang maupun pasar valas guna mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar.