Rhany Chairunissa Rufinaldo
19 Oktober 2018•Update: 19 Oktober 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON/RAMALLAH, Palestina
Amerika Serikat (AS) mengubah status konsulatnya di Yerusalem pada Kamis, menempatkannya di bawah otoritas kedutaan Washington di Yerusalem.
Konsulat selama bertahun-tahun berfungsi sebagai kedutaan besar de facto untuk Palestina, mewakili AS di Yerusalem, Tepi Barat dan Jalur Gaza sebagai bagian dari protokol yang telah lama berdiri.
Dengan menggabungkannya dengan kedutaan AS di Israel, langkah itu dapat dilihat sebagai pengakuan terhadap kendali Israel atas wilayah Palestina, termasuk Yerusalem Timur, yang diharapkan Palestina menjadi ibu kota negara masa depan mereka.
Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan "kami akan mencapai efisiensi yang signifikan dan meningkatkan efektivitas dalam mengumumkan keputusan tersebut, didorong oleh upaya global kami untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasi kami."
Pompeo menambahkan bahwa hal ini tidak menandakan adanya perubahan kebijakan AS tentang Yerusalem, Tepi Barat, atau Jalur Gaza.
"Kami akan terus melakukan berbagai pelaporan, penjangkauan, dan pemrograman di Tepi Barat dan Gaza serta dengan warga Palestina di Yerusalem melalui Unit Urusan Palestina baru di Kedutaan Besar AS di Yerusalem," katanya dalam sebuah pernyataan.
Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Saeb Erekat mengatakan langkah itu menunjukkan bahwa pemerintahan Donald Trump telah sepenuhnya mendukung narasi Israel, termasuk soal Yerusalem, pengungsi dan permukiman.
"Keputusan ini tidak ada hubungannya dengan efisiensi dan upaya menyenangkan tim ideologis AS yang bersedia membubarkan fondasi kebijakan luar negeri AS dan sistem internasional untuk memberikan penghargaan atas pelanggaran dan kejahatan Israel," ungkap Erekat.
"Pemerintahan Trump adalah bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi," tambahnya.
Palestina tidak akan bisa dibungkam dan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan sebagai tanggapan atas langkah AS, dia menekankan, menyatakan bahwa AS tidak dapat memainkan peran apa pun dalam menciptakan perdamaian.
Para pejabat Palestina telah memutuskan hubungan dengan AS karena keputusan Trump yang kontroversial dengan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan memindahkan kedutaan AS ke kota yang diperebutkan itu.
Trump sedang bersiap untuk meluncurkan rencana perdamaian Palestina-Israel yang sudah lama dijanjikan di tengah renggangnya hubungan diplomatik, sementara Palestina terus menolak peran Washington sebagai mediator dalam perundingan perdamaian potensial.
*Aysar al-Ais berkontribusi pada Berita ini dari Ramallah