Muhammad Nazarudin Latief
08 Juni 2019•Update: 09 Juni 2019
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Perdana Menteri Inggris Theresa May secara resmi mundur sebagai pemimpin Partai Konservatif pada Jumat.
May mengatakan bulan lalu bahwa dia tidak akan lagi menjadi pemimpin partai pada 7 Juni dalam konferensi pers setelah pertemuannya dengan Ketua Komite partainya Sir Graham Brady.
Dia mengatakan dalam konferensi pers yang emosional bahwa dia sedih karena belum bisa mewujudkan kesepakatan Brexit dengan parlemen meski sudah melewati tiga usulan.
"Saya bertahan bahkan ketika peluang untuk sukses terlihat tipis. Tetapi sekarang jelas bagi saya bahwa kepentingan nasional yang utama nanti akan dicapai oleh perdana menteri baru," kata dia
May menjadi pemimpin partai dan perdana menteri setelah kepemimpinan David Cameron pada 2016, menyusul keputusan pemilih Inggris untuk keluar UE dalam referendum.
May sudah menegosiasikan Brexit dengan para pemimpin Uni Eropa, namun gagal mendapatkan persetujuan dari parlemen.
May mendapat tekanan untuk mengundurkan diri selama empat bulan terakhir karena dia gagal mengumpulkan dukungan mayoritas untuk kesepakatan Brexit-nya.
Pemilihan pemimpin Partai Konservatif akan dimulai pada 10 Juni dan diharapkan berakhir pada minggu terakhir bulan Juli.
May akan terus menjabat sebagai perdana menteri sementara sampai partai memilih pemimpin barunya.
May lahir pada 1 Oktober 1956 di Eastbourne, Sussex, Inggris dengan nama Theresa Mary Brasier.
Dia adalah anak tunggal dari seorang menteri Anglikan, dan naik ke jabatan pemerintahan tertinggi pada 2016 setelah menjadi pemimpin Partai Konservatif.
Dia memegang beberapa jabatan menteri di berbagai kabinet bayangan antara 1999 dan 2009 dan mencatat dalam sejarah sebagai menteri dalam negeri terlama di negara dari 2010 hingga 2016.
May, bersama dengan Cameron, berkampanye agar Inggris tetap menjadi anggota UE sebelum referendum pada Juni 2016.
Dia menjadi pemimpin partai setelah Cameron dan menjadi perdana menteri wanita kedua negara pada 13 Juli 2016.