Chandni
21 Desember 2017•Update: 21 Desember 2017
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Masa transisi Brexit tidak boleh melampaui 31 Desember 2020, kata Uni Eropa pada Rabu.
Sebuah dokumen yang dirilis UE menyarankan agar hari terakhir masa transisi perpisahan Inggris dari Uni Eropa adalah di akhir 2020.
Inggris berencana berpisah secara resmi dari UE pada 29 Maret 2019.
"Persiapan transisi harus dimulai sejak tanggal Kesepakatan Berpisah dan tidak boleh melebihi 31 Desember 2020," bunyi pernyataan itu.
Pemimpin negosiasi UE Michel Barnier juga memastikan informasi itu dalam sebuah konferensi pers di Brussels.
Barnier mengatakan logis dan wajar bagi masa transisi untuk berakhir pada tanggal itu, yang juga merupakan akhir dari periode anggaran tujuh tahun UE.
"Masa transisi itu berguna dan akan mempersiapkan pemerintah Inggris bersiap-siap menghadapi tantangan ke depan," kata Barnier.
Syarat-syarat transisi masih dirundingkan kedua belah pihak.
Barnier mengatakan selama masa transisi itu, Inggris masih harus mematuhi peraturan UE, namun tidak berhak berkontribusi pada mekanisme penerapan kebijakan UE.
Brexit direncanakan untuk tanggal 29 Maret 2019 namun Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan pada Rabu bila dihadapi "keadaan yang memaksa", pemerintah siap mengundur Brexit sementara.
--Tawaran referendum ulang
Sementara itu, Partai Liberal Demokrat yang dikenal pro-UE mengajukan tawaran mengadakan referendum ulang mengenai Brexit.
Mereka menyarankan masa kampanye 12 minggu dimulai pada September 2018 untuk memberikan warga Inggris kesempatan kedua mengenai pilihan mereka berpisah dari atau menetap di Uni Eropa.
Pemimpin partai itu, Vince Cable, mengatakan referendum itu harus dilakukan bertepatan dengan pengambilan suara dari negara-negara UE untuk meratifikasi kesepakatan akhir Brexit.
Pemerintah Inggris menepis ide tersebut.
Sebelumnya, pada Juni 2016 warga Inggris memilih untuk bercerai dari blok Uni Eropa melalui proses pemungutan suara.