16 Agustus 2017•Update: 16 Agustus 2017
Sorwar Alam
ANKARA
Perdana Menteri Turki dan Estonia bertemu pada hari Rabu untuk perundingan tingkat tinggi di Ankara, di mana permasalahan kesepakatan pengungsi Turki – Uni Eropa kembali dibahas.
Dalam sebuah konferensi pers gabungan, PM Turki Binali Yildirim dan PM Estonia Juri Ratas mengatakan, kedua negara – yang merupakan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) – menikmati hubungan bilateral yang harmonis.
Yildirim berkata, “Kami telah meluncurkan program dengan Uni Eropa (UE) mengenai krisis pengungsi, namun program tersebut tidak berjalan dengan kecepatan yang diharapkan.” Ia menambahkan bahwa Turki hanya menerima EUR 80 juta (USD 9,3 juta) dari anggaran yang dijanjikan EUR 3 miliar (USD 3,5 miliar) untuk penanganan pengungsi Suriah.
Turki menjadi salah satu negara yang “menanggung kesulitan dan kesenjangan otoritas karena perang saudara di Irak dan Suriah”, kata Yildirim mengingat kembali 3 juta pengungsi yang ditampung oleh Turki sejak tahun 2011.
Ratas mengatakan bahwa ia menghargai kerja keras Turki dalam mencegah masuknya pengungsi ke wilayah UE.
“Krisis pengungsi merupakan isu penting bagi Uni Eropa. Untuk penyelesaiannya membutuhkan kerja sama antara negara anggota Uni Eropa dan negara-negara tetangga,” tambah Ratas.
Dalam pertemuan tersebut, aksesi Turki ke Uni Eropa juga dibahas. Yildirim mengharapkan kunjungan Ratas dapat memperbaharui hubungan Turki – UE.
“Kami tengah menunggu beberapa langkah untuk menghidupkan kembali hubungan Turki – Uni Eropa. Saya berharap beberapa perkembangan konkret bisa terealisasi di bawah kepemimpinan Uni Eropa [Estonia],” kata Yildirim.