Dunia

Presiden Turki dan Jerman bicarakan isu bilateral, Afghanistan, dan migrasi

Erdogan menyambut pujian dari presiden Jerman untuk komunitas Turki di Jerman

Enes Kaplan   | 15.09.2021
Presiden Turki dan Jerman bicarakan isu bilateral, Afghanistan, dan migrasi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Turkish Presidency / Murat Cetinmuhurdar / Handout - Anadolu Agency )

Ankara

ANKARA

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier pada Selasa membicarakan isu hubungan bilateral, masalah Afghanistan, dan migrasi, menurut sebuah pernyataan resmi.

Dalam percakapan telepon, Erdogan dan Steinmeier juga membahas masalah regional lainnya, kata Direktorat Komunikasi Turki.

Mengutip pernyataan Steinmeier di sebuah panel Jumat lalu, Erdogan menyambut pujian sejawatnya dari Jerman untuk komunitas Turki di Jerman.

Dalam pidato yang menandai peringatan 60 tahun penandatanganan perjanjian kerja Jerman-Turki, Steinmeier berterima kasih kepada para imigran Turki yang tiba di Jerman pada 1960-an karena berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi negara dan transformasinya menjadi masyarakat yang kaya dan beragam secara budaya.

"Orang-orang yang datang pada waktu itu, yang disebut pekerja tamu: Anda, anak-anak Anda, cucu-cucu Anda hari ini adalah bagian dari apa yang membuat Jerman. Jerman tanpa Anda sama sekali tidak terbayangkan," kata Steinmeier.

Solidaritas di Afghanistan

Erdogan juga memuji koordinasi dan solidaritas Turki dan Jerman sebagai sekutu NATO selama evakuasi bulan lalu dari Afghanistan, menekankan perlunya mempertahankan pendekatan yang sama selama "proses kritis" yang sekarang sedang dilalui Afghanistan.

Menekankan bahwa bantuan kemanusiaan yang diperlukan harus dikirim ke Afghanistan oleh PBB dan kelompok lain, presiden Turki mengatakan tidak ada yang ingin melihat tayangan ulang aliran migran dari Suriah pada 2015.

Jerman dan Uni Eropa harus memberikan dukungan kepada negara-negara tetangga yang menanggung beban migrasi Afghanistan dalam hal ini, tambah Erdogan.

Dia mengatakan bahwa beberapa negara Eropa telah membatasi masalah ini hanya pada keamanan perbatasan, menggarisbawahi Turki tidak memiliki kapasitas untuk memikul beban migrasi yang baru.

Dalam percakapan itu, Erdogan juga mengatakan negaranya berhak mengharapkan implementasi perjanjian migrasi Turki-UE 2016 dalam segala hal, dia menekankan bahwa UE harus mengambil langkah-langkah merevitalisasi negosiasi keanggotaan Turki, memperbarui Serikat Bea Cukai, dan liberalisasi visa untuk warga Turki.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın