Hayatı Nupus
16 Februari 2020•Update: 17 Februari 2020
Aydogan Kalabalik
TRIPOLI
Perdana Menteri Libya Fayez al-Sarraj pada Sabtu menegaskan bahwa masalah Libya dapat diselesaikan melalui negosiasi.
Krisis bisa diselesaikan secara politik ketimbang militer, namun selama komandan pemberontak Khalifa Haftar terus menargetkan pemukiman sipil, negosiasi tidak dapat dilanjutkan, ujar Sarraj kepada wartawan di Tripoli.
Haftar ditandai sebagai “kejahatan perang” karena serangan yang menargetkan warga sipil baru-baru ini.
Setidaknya 30 orang tewas dan 33 lainnya terluka ketika pasukan Haftar melancarkan serangan udara di asrama sekolah militer di Tripoli, yang terutama menargetkan para siswa, pada 5 Januari lalu.
Sejak penggulingan mendiang penguasa Muammar Khaddafi pada 2011, Libya terpecah menjadi dua kekuasaan: Haftar di timur Libya yang utamanya didukung oleh Mesir dan UEA, sedang lainnya GNA di Tripoli, yang memperoleh pengakuan PBB dan kalangan internasional.
Haftar menyerang pemerintah sah Libya sejak April lalu, yang mengakibatkan lebih dari 1.000 orang tewas.
Pihak yang bertikai mengumumkan gencatan senjata pada 12 Januari, sebagai tanggapan atas seruan bersama Turki dan Rusia.
Namun pembicaraan untuk gencatan senjata permanen berakhir tanpa kesepakatan, setelah Haftar meninggalkan Moskow pada 14 Januari tanpa menandatangani berkas konsensus itu.
* Ditulis oleh Gozde Bayar