Safvan Allahverdi
22 Juni 2018•Update: 23 Juni 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Pemerintahan Trump pada Kamis meminta kepada Pentagon untuk menampung hingga 20.000 anak-anak imigran yang tak didampingi orangtua mereka di basis-basis militer untuk beberapa bulan mendatang sementara pemerintah pusat menyelesaikan kebijakan imigrasi kontroversial mereka.
Permintaan ini datang dari Kementerian Kesehatan dan Kemanusiaan, ujar pejabat yang berbicara kepada Anadolu Agency secara anonim, menambahkan bahwa Pentagon saat ini mempertimbangkan untuk menerima permintaan tersebut.
Senator New York dan Pemimpin Senat Minoritas, Chuck Schumer, dalam sebuah pernyataan mengonfirmasi adanya permintaan tersebut namun masih ada beberapa pertanyaan soal kemungkinan pelaksanaannya.
"Kementerian Pertahanan sudah ditanya apakah mereka bisa menampung 20.000 anak-anak tanpa pendampingan antara sekarang sampai akhir tahun depan. Bagaimana caranya? Apakah ini memungkinkan?" kata Schumer saat mempertanyakan masalah ini di rapat Senat.
Permintaan ini menyangkut anak-anak migran yang ditahan setelah melintasi perbatasan AS-Meksiko secara ilegal.
Perkembangan terbaru ini menyusul banyaknya kritik yang ditujukan kepada pemerintah atas praktik kontroversial mereka memisahkan orangtua dan anak yang dicurigai melintasi perbatasan tanpa dokumen resmi.
Presiden Donald Trump menandatangani mandat eksekutif untuk mengakhiri praktik tersebut pada Rabu.
Trump melakukan ini setelah sebelumnya, pada Jumat, dia berkata tidak akan bisa memperbaiki keadaan dengan mandat eksekutif, lalu menyalahkan Kongres dan Partai Demokrat atas praktik ini.
Kebijakan 'zero tolerance' Trump menyebut akan menuntut secara kriminal semua orang dewasa yang tertangkap masuk AS tanpa dokumen resmi, berbeda dengan kebijakan pemerintahan lalu yang membatasi tuntutan kriminal kepada mayoritas pelintas perbatasan AS dengan anggota keluarga di bawah umur.
Kebijakan ini membuat anak-anak, yang tidak dituntut secara kriminal, harus berpisah dengan orangtuanya yang terbelit kasus kriminal. Menurut kebijakan yang sama, mereka juga tidak boleh ditahan di tempat yang sama dengan orangtua mereka selama proses legal berlangsung.
Gambar-gambar memilukan telah dirilis sejak penerapan peraturan ini pada akhir pekan lalu, menampakkan anak-anak yang dikurung di dalam sel-sel besi yang dilengkapi rantai, yang semakin memperburuk kebijakan penuh kontroversi ini.
Praktik ini menimbulkan kemarahan, termasuk dari anggota partai pendukung Trump, yang mendesak presiden untuk mengubah keputusannya itu atas dasar rasa kemanusiaan.
Beberapa pemerintah negara bagian, termasuk dari Partai Republik, menarik atau menghentikan pemberangkatan pasukan Penjaga Nasional yang dimaksudkan untuk memperkuat penjagaan perbatasan sehingga Trump mau membatalkan kebijakan ini.
Beberapa pejabat senior mencegah aksi balasan ini dengan melempar tanggung jawab kepada anggota parlemen, sambil menyangkal pemerintah bertanggungjawab atas apapun.
Hingga kini masih belum jelas nasib lebih dari 2.000 anak-anak yang terlanjur dipisahkan dari orangtuanya itu.