PBB desak AS dan Rusia segera rundingkan perjanjian nuklir pengganti
Berakhirnya Perjanjian New START menempatkan dunia dalam kondisi tanpa batasan hukum atas persenjataan nuklir strategis untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad
HAMILTON, KANADA
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Amerika Serikat dan Rusia sebagai momen serius bagi perdamaian dan keamanan dunia, karena untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad tidak ada lagi batasan hukum yang mengikat atas persenjataan nuklir strategis kedua negara.
Dalam pernyataan yang disampaikan Rabu (5/2), Guterres menegaskan bahwa berakhirnya Perjanjian New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) tepat pada tengah malam menandai situasi yang berbahaya bagi stabilitas global.
Ia menyebut, untuk pertama kalinya sejak lebih dari 50 tahun lalu, dunia menghadapi kondisi tanpa batasan yang mengikat secara hukum terhadap persenjataan nuklir strategis milik Federasi Rusia dan Amerika Serikat, dua negara yang menguasai sebagian besar persediaan senjata nuklir global.
Menurut Guterres, kerja sama pengendalian senjata nuklir antara kedua negara selama puluhan tahun telah menjadi faktor penstabil penting yang membantu mencegah bencana dan mengurangi risiko salah perhitungan yang dapat berakibat fatal.
Ia mengingatkan bahwa sejak era Strategic Arms Limitation Talks (SALT) hingga New START, berbagai perjanjian bilateral telah berhasil memangkas ribuan senjata nuklir dan memperkuat keamanan internasional.
“Pembubaran capaian selama puluhan tahun ini tidak bisa terjadi pada waktu yang lebih buruk,” kata Guterres, seraya menekankan bahwa risiko penggunaan senjata nuklir saat ini berada pada tingkat tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Ia juga menyoroti bahwa ketiadaan batasan yang dapat diverifikasi atas persenjataan strategis akan meningkatkan ketidakamanan global, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan pesatnya perkembangan teknologi.
Meski demikian, Guterres menilai situasi tersebut juga dapat menjadi peluang untuk memulai kembali upaya pengendalian senjata.
Ia mengatakan dunia kini menantikan langkah nyata dari Federasi Rusia dan Amerika Serikat untuk segera kembali ke meja perundingan dan menyepakati kerangka pengganti yang dapat memulihkan batasan yang dapat diverifikasi, mengurangi risiko, serta memperkuat keamanan bersama.
Perjanjian New START ditandatangani pada 8 April 2010 di Praha oleh Amerika Serikat dan Rusia, dan mulai berlaku pada 5 Februari 2011.
Perjanjian tersebut menggantikan START I yang berakhir pada Desember 2009 serta mengakhiri perjanjian Strategic Offensive Reductions Treaty (SORT) tahun 2002, sebagaimana dicatat oleh Arms Control Association yang berbasis di Amerika Serikat.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
