Muhammad Abdullah Azzam
03 November 2020•Update: 03 November 2020
Abdel Ra'ouf D. A. R. Arnaout, Hacer Başer, Safiye Karabacak
YERUSALEM
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diam-diam mengikuti proses pemilu Amerika Serikat (AS) pada Selasa 3 November ini dengan harapan Donald Trump memenangkan pemilu tersebut.
Pakar Israel mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pemilu tersebut akan menjadi masalah besar bagi Netanyahu jika saingan Trump, Joe Biden, memenangkan pemilihan itu.
"Tidak diragukan lagi, Netanyahu ingin Trump memenangkan pemilu. Kekalahan Trump dalam pemilu akan menjadi masalah besar bagi Netanyahu," kata Avi Iskharov, seorang penulis harian Israel Maarif.
Memperhatikan bahwa Netanyahu telah bermain kartu untuk Trump selama bertahun-tahun dan telah menjalin hubungan yang kuat dengan dia dan keluarganya, terutama dengan menantunya Jared Kushner, Iskharov mengatakan bahwa ada semacam kedekatan pribadi antara Netanyahu dan Trump.
"Biden juga tidak memiliki sikap yang memusuhi Israel. Tak mungkin untuk menyebut dia di antara mereka yang mendukung Palestina melawan Tel Aviv. Tapi Netanyahu telah membakar banyak jembatan antara dirinya dengan Biden dan partainya," ungkap Iskharov.
Trump mendapat dukungan dari Netanyahu sejak dia berkuasa.
Netanyahu menentang mantan Presiden AS dari Partai Demokrat, Barack Obama, yang mengizinkan adopsi resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa 2334, yang mengatakan pemukiman Yahudi di wilayah pendudukan Palestina ilegal.
Netanyahu juga menentang perjanjian nuklir dengan Iran selama masa jabatan Obama. Pemerintahan Trump dan partainya juga menggunakan perjanjian ini untuk melawan Partai Demokrat yang dipimpin Biden.
-Netanyahu berinvestasi habis-habisan untuk Trump
Khaimi Shalev, salah satu kolumnis harian Haaretz, mengatakan pada simposium online pada 28 Oktober, "Netanyahu telah berinvestasi untuk Trump dengan sekuat tenaga. Jika Trump kehilangan posisinya maka Netanyahu juga akan menderita. Tetapi jika dia menang, Netanyahu juga akan menang."
"Netanyahu sangat cocok untuk Trump, dia tidak dapat mengatakan tidak kepadanya. Dia hanya salah satu Perdana Menteri Israel yang tidak dapat menentang Presiden AS," lanjut Shalev.
Terkait hak istimewa Netanyahu selama masa jabatan Trump dan kemungkinan tak dilanjutkan jika Biden menang, Shalev mengatakan jika Trump menang Netanyahu akan berpikir telah menang selama 4 tahun kedepan sehingga dia dapat melakukan apa yang dia inginkan.
Shalev mengungkapkan bahwa jika Biden memenangkan pemilu, Biden bisa saja menunjukkan sikap penentangan terhadap praktik Israel tertentu.
Analisis yang dipublikasikan di situs web Axios AS pada Kamis, menunjukkan bahwa hasil pemilu AS akan berperan dalam menentukan apakah Israel akan menghadapi pemilu lain.
Netanyahu berada di landasan politik yang licin di tengah gelombang kedua virus korona dan dia dapat pergi ke pengadilan tiga hari seminggu untuk membela diri dari tuduhan korupsi pada Januari lalu.
Netanyahu akan mencoba untuk mendapatkan kembali posisinya dengan pemilihan awal dan membuat janji kepada para pemilih dengan memanfaatkan hubungan yang kuat jika Trump menang, dan kekalahan Trump akan memberikan pukulan keras terhadap Netanyahu.
Dukungan Trump untuk Israel
Menurut pernyataan pejabat Israel, Trump memberikan kepada Israel apa yang tidak diberikan oleh presiden AS lainnya.
Mengakui Yerusalem sebagai "ibu kota Israel", Trump memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem dan memotong bantuan keuangan untuk Palestina.
Tak hanya itu, Trump juga menutup kantor Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Washington, serta menerima permukiman Yahudi yang dibangun di atas tanah Palestina diakui sebagai "legal" dan mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan.
Trump juga memimpin proses normalisasi antara beberapa negara Arab dan Israel beberapa bulan sebelum pemilihan.
Dia juga mencabut pembatasan yang mencegah bantuan AS untuk kerja sama ilmiah yang digunakan di permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan.
Terlebih dari itu, Trump telah mengumumkan "Kesepakatan Abad Ini," yang disebut Israel sebagai rencana perdamaian Timur Tengah, yang mencakup aneksasi lebih dari 30 persen Tepi Barat.
Rencana ini juga mengakui kedaulatan keamanan penuh Tel Aviv di wilayah yang membentang dari Sungai (Tepi Barat) ke Laut (Mediterania)", sekaligus mencegah hak pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah mereka.