Shenny Fierdha
BOGOR
Ahli studi Timur Tengah, Abdul Muta’ali dan Hamdan Basyar, berpendapat Amerika Serikat (AS) harus berhenti menggunakan hak vetonya untuk membela Israel terkait kekejaman terhadap Palestina.
Terdapat 5 negara Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang memiliki hak veto yakni AS, Inggris, Cina, Rusia, dan Prancis.
“Indonesia dan negara lain mungkin bisa mendorong PBB menghapus hak veto agar tidak ada negara tertentu yang diistimewakan. Hak veto itu hanya menguntungkan sebagian pihak saja,” kata Hamdan, pengamat politik Timur Tengah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), saat dihubungi Anadolu Agency, Rabu.
Menurutnya, kalau penghapusan hak veto itu tidak mungkin dilakukan, sebaiknya PBB menambah jumlah negara yang punya hak veto dengan melihat kekuatan ekonomi negara tersebut. Jika dipandang memiliki kekuatan ekonomi mumpuni, negara itu bisa dipertimbangkan untuk mendapat hak istimewa ini.
Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (PKTTI-UI) Muta’ali mengatakan, AS kerap memakai hak vetonya untuk membela Israel sebagai “anak emas”.
“Kapan selesainya konflik berkepanjangan antara Israel dengan Palestina itu ya tergantung AS; apakah AS akan terus membela Israel lewat hak vetonya atau tidak,” ujar Muta’ali, juga lewat sambungan telepon pada hari yang sama.
Selain itu, kedua pakar ini sependapat insiden penutupan kawasan Masjid Al-Aqsa baru-baru ini hanyalah sebagian kecil dari konflik Israel dengan Palestina. Akar masalahnya ialah penjajahan Israel terhadap Palestina.
Namun dunia internasional tak bisa berbuat banyak karena AS, selaku negara adidaya, terus membela Israel dengan hak vetonya.
“Lobi zionis Israel di AS itu kuat sekali dan mampu mempengaruhi AS di berbagai bidang seperti pemerintahan, politik, ekonomi, media massa, keuangan,” kata Hamdan.
Meski begitu, menurut Muta’ali, kemerdekaan Palestina tetap bisa diwujudkan asalkan dunia internasional bersatu mendukung Palestina.
“Atas nama kemanusiaan, semua orang harus berdiri tegak melawan Israel. Semuanya harus mengatakan tidak pada zionisme Israel dan mengatakan ya kepada kemerdekaan Palestina,” tegas Muta’ali.
news_share_descriptionsubscription_contact
