Pizaro Gozali İdrus
11 Mei 2018•Update: 12 Mei 2018
Pizaro Gozali
BOGOR, Indonesia
Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta perwakilan ulama Afghanistan dan Pakistan bisa menempuh jalan damai untuk menghentikan perang berkepanjangan di Afghanistan.
Secara umum, Ma’ruf menekankan pentingnya membangun perdamaian sesama Muslim.
“Kami ingin mendorong Anda berishlah karena didasari oleh tanggung jawab keagamaan dan kebangsaan,” ujar Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin dalam forum trilateral ulama Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia soal perdamaian dan stabilitas di Afghanistan pada Jumat di Bogor.
Ma’ruf mengatakan tanggung jawab keagamaan yang dimaksud berupa perintah Al-Qur’an untuk mendamaikan sesama Muslim yang sedang berselisih.
“[Sedangkan] tanggung jawab kebangsaan adalah Undang-Undang Dasar kami yang menyerukan perdamaian di dunia internasional,” jelas Ma’ruf.
Ma’ruf mengaku bersyukur Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan untuk membicarakan keutuhan bangsa Afghanistan.
“Karena itu kami berharap persatuan menjadi awal dari tercapainya upaya perdamaian di negara saudara kami Afghanistan,” kata Ma’ruf.
Ma’ruf mengaku dapat merasakan penderitaan yang dialami bangsa Afghanistan.
Walaupun terdiri dari berbagai macam etnis, suku dan agama, tetapi Indonesia tetap utuh untuk menjaga prinsip persaudaraan sebagai sesama Muslim dan anak bangsa.
“Mudah-mudahan prinsip ini juga dipegang teguh oleh umat Islam di Afghanistan,” kata Ma’ruf.
Indonesia menggelar forum trilateral ulama Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia soal perdamaian dan stabilitas di Afghanistan pada Jumat di Bogor.
Dalam pidato pembukaannya, Presiden Joko Widodo menyampaikan pertemuan ini dilakukan untuk merumuskan perdamaian di Afghanistan melalui peran para ulama.
“Kita yakin pertolongan Allah itu dekat. Di sinilah peran ulama untuk menjaga momentum dan optimisme umat akan perdamaian,” kata Presiden yang akrab disapa Jokowi ini.
Konflik Afghanistan yang sudah berjalan selama empat dekade, hingga kini belum menampakkan tanda-tanda mereda. Pertarungan ini terjadi antara berbagai kelompok milisi, dengan Taliban yang paling berpengaruh, dengan pemerintah. Taliban sendiri merupakan faksi perlawanan Muslim.
Dalam Konferensi Internasional Kabul Peace Process yang dihadiri perwakilan dari 25 negara – termasuk Indonesia – dan diselenggarakan pada 28 Februari lalu, Presiden Ashraf Ghani bermaksud menawarkan perdamaian kepada Taliban.
Ghani, dalam konferensi itu, menawarkan Taliban menjadi partai politik. Ghani juga berjanji melakukan gencatan senjata, membebaskan tahanan Taliban, serta mencabut sanksi-sanksi yang dijatuhkan kepada mereka.
Sejak invasi AS ke Afghanistan pada 7 Oktober 2001, pasukan AS tak pernah benar-benar pergi dari wilayah ini.
AS menyerang Taliban karena dianggap melindungi pemimpin Al Qaeda Osama Bin Laden yang dituduh Washington mendalangi serangan terhadap menara kembar WTC, New York, pada 11 September 2001.