Astudestra Ajengrastrı
26 Juli 2018•Update: 26 Juli 2018
Kubra Chohan
ANKARA
Para ahli memprediksi penghitungan suara akhir dalam pemilihan umum Pakistan akan menunjukkan hasil ketat antara partai yang dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Nawaz Sharif yang kini mendekam di penjara dengan partai pengusung mantan pemain kriket, Imran Khan. Pengambilan suara telah berakhir di Pakistan pada Rabu malam.
Lebih dari 100 juta pemilih memberikan suaranya sejak Rabu pagi, sementara proses pemilihan umum diwarnai oleh klaim adanya kecurangan dan aksi terorisme. Proses pemungutan suara secara resmi berakhir pada pukul 18.00 waktu setempat (1300GMT).
Walaupun ancaman teror menghadang, tingkat partisipasi pemilu warga Pakistan tetap tinggi.
Di hari pemungutan suara, setidaknya 28 orang tewas dan 30 lainnya terluka dalam peristiwa yang diduga aksi bom bunuh diri di wilayah timur Kota Quetta, lapor televisi Pakistan Express News.
Tentang serangan ini, pengamat politik Pakistan Ridwan Naseer berkata, "Bila masyarakat tidak keluar, jika mereka tidak memberikan suara, bagaimana mereka bisa memilih perwakilan mereka yang sebenarnya?"
Naseer mengatakan serangan-serangan yang terjadi dan menargetkan para politisi adalah serangan terhadap stabilitas Pakistan; meski begitu, para politisi tetap meminta masyarakat untuk keluat rumah dan memberikan suara.
Dia juga mengkritik media karena tidak menampilkan liputan yang berimbang atas serangan di Balochistan.
Javed Rana, seorang jurnalis lokal, mengatakan serangan teror yang terjadi tak berpengaruh pada "keseluruhan jumlah pemilih" di Pakistan.
Sebanyak 800.000 personel polisi dan tentara diperintahkan menjaga sekitar 85.000 TPS di seluruh negara.
Pemilihan umum ketat
"Walaupun jika tingkat pertisipasi hanya 50 persen, ini tetap indikasi bahwa orang-orang tak terlalu terganggu dengan serangan-serangan teror yang terjadi," ujar Rana.
Tentang parta politik mana yang diprediksi memenangkan pemilu, Rana yakin akan ada persaingan ketat antara PML-N dengan Pakistan Tehreek-i-Insaf (PTI) yang dipimpin oleh mantan bintang kriket, Imran Khan.
Muhammad Mehdi, kolumnis untuk harian berbahasa Urdu yang populer di Pakistan, Jang, memprediksi PML-N akan mendapatkan kursi mayoritas di majelis rendah parlemen -- Majelis Nasional -- dan di majelis Provinsi Punjab.
Mehdi melanjutkan, PML-N yang merupakan partai Nawaz Sharif yang tiga kali menjadi perdana menteri Pakistan, juga akan berkuasa di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, sementara Partai Rakyat Pakistan (PPP) yang dibentuk oleh Perdana Menteri Benazir Bhutto yang tewas dibunuh akan berjaya di Majelis Sindh, dan Majelis Balochistan akan mendapatkan "hasil campuran".
Naseer, meski begitu, berkata, "Mungkin akan ada seri antara PTI dan PML-N. Mereka mungkin mendapatkan jumlah kursi nyaris sama di majelis nasional."
Dia juga memperkirakan partai-partai kecil, partai besar di luar PTI dan PML-N, serta para kandidat independen akan memenangkan 90-92 kursi.
Dia menekankan kemungkinan tidak ada partai yang memenangkan suara mayoritas karena "tidak ada partai politik yang terlalu populer di masyarakat, sedangkan PTI adalah partai baru".