17 Juli 2017•Update: 17 Juli 2017
Aamir Latif dan Yusuf Hatip
ISLAMABAD
Pemimpin kelompok separatis Hizbul Mujahideen, Syed Salahuddin, menolak label teroris global yang disematkan AS kepadanya, mengatakan “gerakan simbolis” itu dilakukan untuk memuaskan India.
Hizbul Mujahideen adalah salah satu kelompok militan terkuat yang memberontak melawan kekuasaan India di Jammu Kashmir.
Kashmir, wilayah Himalaya yang berpenduduk mayoritas Muslim, terbagi menjadi dua area yang masing-masing diduduki oleh India dan Pakistan.
Dalam wawancara ekslusif dengan Anadolu Agency di ibukota Pakistan Islamabad, Salahuddin mengatakan ia melihat dirinya sebagai pejuang kebebasan dan bertekad melanjutkan perjuangannya di Jammu Kashmir walaupun dijuluki teroris oleh AS.
Kementerian luar negeri AS mendeklarasikan itu pada akhir Juni ketika menerima perdana menteri India Narendra Modi sebagai tamu negara.
“Tidak akan ada dampaknya sama sekali pada perjuangan kebebasan Kashmir karena itu merupakan keputusan sepihak pemerintahan Trump dan tidak didukung PBB,” kata pemimpin separatis yang berusia 70 tahun itu.
“Ini sangat ironis dan tak berasalan dan tidak lebih dari sekadar hiburan untuk Mr Modi, yang sebenarnya adalah teroris terburuk bagi AS dan tidak seharusnya diberikan visa karena keterkaitannya dengan pembantaian kaum Muslim di Ahmedabad pada 2002.”
Modi, yang merupakan ketua menteri propinsi Gujarat pada saat kejadian itu, berulang kali dikritisi karena gagal menengahi kerusuhan anti-Muslim yang menewaskan lebih dari 1.000 orang.
Salahuddin mengatakan label teroris pada dirinya hanya “gerakan simbolik untuk memuaskan pemerintahan India”.
Ia menambahkan: “Kemenlu AS tidak bisa menunjukkan bahkan satu pun contoh aksi teror dalam 42 tahun karir Salahuddin. Saya menantang mereka untuk melakukan itu.”
Ia mengatakan dengan menjulukinya teroris, Trump telah mencemar prinsip dan sejarah AS.
Salahuddin percaya dirinya dijadikan kambing hitam menyusul penataan ulang politik dan regional.
“Kerjasama baru makin terbentuk,” katanya kepada Anadolu Agency. “India dan AS makin dekat melawan Cina, sedangkan Pakistan mendekati Cina dan Rusia juga."
“AS ingin mendukung India melawan Cina maka itu mereka berani mengambil keputusan tidak masuk akal untuk mempertegas hubungan tersebut.”
“Kami tidak memiliki agenda global – gerakan kami hanya terkait pembebasa Jammu dan Kashmir dari pasukan penjajah. Tidak lebih, tidak kurang.”
Ketua Hizbul Mujahideen itu juga memuji warga Turki yang mendukung gerakan pembeban Kashmir dan mengatakan presiden Turki Recep Tayyip Erdogan selalu mendukung gerakan perjuangan Kashmir dan Palestina.
“Kami warga Kashmir sangat berterimakasih pada warga dan pemerintahan Turki atas dukungan mereka yang sangat besar.”
India dan Pakistan telah berhadapan tiga kali pada peperangan – pada 1948, 1965 dan 1971 – sejak berpisah pada 1947, dua pertempuran itu terkait Kashmir. Kelompok pemberontak di Jammu dan Kashmir terus berjuang untuk kemerdekaan dari kuasa India, atau untuk bergabung dengan Pakistan.
Lebih dari 70.000 orang telah tewas dalam konflik itu sejak 1989. India menempatkan lebih dari setengah juta tentara di area yang disengketakan itu.