26 Juli 2017•Update: 27 Juli 2017
Turgut Alp Boyraz
JERUSALEM
Sedikitnya 13 warga Palestina terluka ketika polisi Israel menembakkan gas air mata dan peluru karet ke jemaah di kompleks Masjid al-Aqsa, Selasa malam, menurut Bulan Sabit merah Palestina.
Jemaah tengah melaksanakan salat malam ketika polisi menghalangi salah satu gerbang masjid dalam kekerasan akhir-akhir ini sejak tindakan pengamanan diberlakukan oleh pihak berwenang Israel di kompleks al-Aqsa.
Reaksi amarah telah menyebar hingga Tepi Barat sejak pekan lalu setelah Israel menutup al-Aqsa - situs suci bagi umat Muslim dan Yahudi, yang disebut sebagai Bukit Bait Suci – menyusul baku tembak 14 Juli. Al-Aqsa kembali dibuka setelah 2 hari, dengan pemasangan detektor logam dan kamera pengawas pada gerbang masuknya
3 Warga Palestina tewas dalam aksi protes melawan kebijakan Israel. 3 Warga Israel juga tewas dalam serangan di permukiman di Tepi Barat.
Israel menolak untuk memindahkan detektor dan mengklaim bahwa tindakan pengamanan tersebut serupa dengan prosedur keamanan yang diberlakukan di tempat-tempat suci lainnya di seluruh dunia.
Setelah mendapat kecaman dan tekanan internasional, kabinet keamanan Israel memutuskan untuk memindahkan detektor logam pada Senin malam. Pernyataan yang dirilis setelah pertemuan kabinet menyebutkan sistem penjagaan baru dengan teknologi canggih “smart-check” akan dipasang.
Jerusalem adalah kota suci bagi Islam, Yahudi, dan Kristen – Masjid al-Aqsa adalah tempat suci ketiga di dunia bagi umat Islam setelah Mekah dan Madinah.